Kalah.

Sebilah pedang terayun

Anginnya hampir saja menyayat telinga

Berikutnya pasti kena sasaran

Berdoa, sudah pasti

Berusaha, itu pilihan

Gemetar bukan lagi dirasakan

Terguncang sampai ke dada

Pedang tersebut kemudian menusuk

Dalam, hingga hancur usus duabelas jariku

Sakit, tentu saja

Mengucur semua darah dalam tubuh

Menjerit kematian

Satu detik bukan satu menit

Tapi otak sudah bukan pada tempatnya

Normal untuk kekalahan telak

Nafsu emosi benar-benar kejam

Kematian tak terelakkan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s