Catatan perjalanan 12 pendaki, Papandayan.

page

Hello my wordpress udah lama enggak nulis disini.

Perkenalkan kami adalah Eka Primasatya (gw sendiri), Imam Bayadho (ibay), Achmad Jama’ah (Rama), Fadli Rachman (Fadol),  Muhammad Habib (Habib), Imam Rosadi (Ocha), Rio Aditya (Rio), Mukti Ageng (Age), Raysa FItria (Raysa), Okky Pramudyawardhani (Oki), Widhi Wijayanti (Widi), dan Adita Doena (Adit), kami adalah pendaki newbie yang bercita-cita menaklukan puncak Semeru, Kerinci, dan Rinjani nantinya J, sepertinya sedikit kurang tepat dan berkesan angkuh kalau menaklukan gunungnya, gw pribadi lebih suka memandangnya dari sisi conquered ourselves dan kekompakan tim. Sebelumnya sebagian dari kami pernah melakukan pendakian, tetapi ini adalah pendakian bersama perdana kami, tujuanya adalah Puncak Gunung Papandayan (2665 mdpl). Karena berbagi itu indah, berikut kisahnya

Setelah diskusi panjang dan perencanaan yang insyaallah matang, akhrinya tiba juga hari H, yaitu 2 September 2013 yang merupakan waktu yang sudah kami putuskan untuk keberangkatan pendakian Gunung Papandayan. Rencana kami berangkat adalah ba’da Ashar agar sampai Camp David jam 11 malam, walaupun begitu Jam 08.00 kami (belum semua tapi sebagian besar) sudah datang dan berkumpul di kampus tercinta, pagi ini kami yang belum sarapan bersama-sama jajan di warung Awa depan kampus, seperti biasa sembari makan kawan kami si Age yang bermata liar mulai melontarkan komentar-komentar ala playboy cap cangkul tentang maba 2013 yang saat itu sedang banyak berlalulalang di depan kampus. Fadol balik ngecengin tentang status poligami Age yang waktu itu udah punya 2 cewe. Raysa yang jomblo pura-pura whatsappan padahal lagi main game linebubble, si Oki lagi kebingungan karena dia galau mau berangkat ke BPPT Serpong ketemu pembimbing skripsi,  sedangkan gw yang paling kalem diem aja sambil nyeruput milo hangat. Enggak lama kemudian dateng si Rio yang kemudian menitipkan barang bawaannya ke Age dan langsung menghilang lagi buat jemput Widhi. Oki akhirnya memutuskan buat pergi ke BPPT serpong naik kereta.

Setelah  sarapan selesai  kami kemudian kembali ke basecamp (lab kimia) untuk repacking barang-barang bawaan. Beberapa dari kami yang sudah datang segera mengelompokkan dan merecheck barang logistic khususnya keperluan kelompok  yang dua hari sebelumnya sudah di drop di kampus. Perlengkapan ini kami rencanakan untuk kegiatan pendakian selama 3 hari, bahan-bahan makanan seperti mie goreng 25 bungkus, bumbu nasi goreng 5 bungkus, margarin 2 bungkus, bubur super 12 bungkus, gula 1 kg, kopi 30 bungkus, beras 2 kg, saos sambal 1 botol, kornet 1 kaleng, kecap manis 1 botol, pop corn 3 bungkus, topping coklat 1 botol, telur ayam rebus 10 butir, sarden 1 kaleng, teh celup 1 kotak, susu kental manis 1 kaleng, bumbu dapur 1 set, nugget 1 bungkus, dan kismis 1 lusin semuanya statusnya tercentrang dengan baik seperti yang direncanakan hanya saja kurang bakso 1 bungkus yang lupa terbawa. Kemudian pengecekan logistic kelengkapan peralatan yaitu nesting 1 set, panci 1 buah, kompor 2 set, jerigen 2 buah, oxican 4 botol, hicook 5 botol, polybag 1 bungkus, tisu kering 1 bungkus, paraffin 1 kotak, tenda 3 pasang, spons 1 bungkus, flysheet 1 lembar, lentera 1 buah, centong 1 buah, gunting 1 buah, dan piso dapur 1 buah semuanya oke. Semua barang bawaan tersebar kedalam carrier yang bercampur dengan barang bawaan personal.

Gemblongan

Gemblongan

Jam menunjukkan pukul 11.00, Alhamdulillah semua barang bawaan sudah terbungkus rapi di dalam carrier. Tetapi kami menyadari sesuatu, terdapat tenda berbentuk lingkaran yang aneh, karena belum pernah melihat tenda seperti itu sebelumnya kami tidak ingin terjadi masalah teknis di lapangan nanti, jadi kami mencoba mendirikannya dan ternyata mudah sekali karena langsung berdiri dengan rapi. Permasalahan terjadi karena kebingungan bagaimana melipatnya seperti semula, tidak ada buku manualnya bro, tak apa om gugel yang panjang umur bisa menjawab banyak hal daaan alhamduliah terima kasih kepada pengunggah video di YouTube karenanya kami berhasil melipat tenda tersebut. Kami kemudian bergegas menuju kantin basement 1 untuk makan siang. Disadari atau tidak makan siang ini adalah makanan terakhir yang paling bergizi yang kami dapati. Tidak lama kemudian kami menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur.

Jam 13.30 teng, berduabelas sudah lengkap berkumpul termasuk Oki yang baru saja sampai kampus. Kemudian kami berpamitan dengan teman-teman yang kebetulan lagi ada di lab, lalu segera melangkah pergi menuju halte bus. Tadinya kami berencana naik metromini 72 di Blok M, tetapi sepertinya terlalu merepotkan, jadi kami mengikuti saran dari Adita, Raysa, dan Widhi yaitu naik APTB arah lebak bulus. Tiket APTP rupanya mahal juga, yaitu Rp 8000 per orang, gw yang terbiasa naik motor duit segitu bisa dapet bensin yang cukup buat pulang-pergi Pamulang. Di APTB nyaman juga, ada AC nya bro. Perjalanan APTB  kampus sampai Lb Bulus memakan waktu kurang lebih 1 jam. Jadi, kita sampai sekitar jam 14.30 di terminal tersebut. Berhubung rencana kita berangkat ba’da Ashar, jadi nongkrong dulu di deket masjid. Terbayang perjalanan jauh yang bakal dilewatin nanti, gw, Oki, Habib, sama Fadol makan dulu di warteg sebelah. Teman- teman lain ternyata masih kenyang jadi enggak ikutan makan. Makan warteg sembari ngobrol-ngobrol tentang pendakian yang telah dilakukan si Oki di gn Cikurai, doi cerita klo ternyata nanjak Cikurai kemarin lewatin jalur illegal (buka jalur) udah gitu enggk daftar dulu di pos. Gile nih orang untung aja kagak ilang di hutan. Cikurai juga enggak ada sumber air, jadi Oki dan tim pendaki nggendong aqua 1.5 L masing-masing orang bawa kurang lebih 10 botol , gokil berat bener bro. Akibat enggak daftar di pos itu pas di puncak dicariin sama polisi hutan. Walaupun begitu kisah Oki happy ending mereka semua selamat alhamdulillah.

Bedug dan adzan pertanda udah masuk waktu asar, kita segera wudhu dan solat asar berjamaah di masjid Lebak Bulus. Gw pribadi berdoa kepada Allah SWT agar kita semua diberikan keselamatan, diberikan ketenangan dalam kesulitan, diberikan kesehatan serta kekuatan fisik dan mental yang cukup untuk pendakian. Amin.  Setelah berdoa dan bersiap-siap kita segera menuju Bus Primajasa ekonomi ac, untuk jurusan Lb Bulus – garut tiketnya Rp 42.000 per orang. Di dalem bis si Age udah siap sama gorengannya sebelahan sama si Ocha yang enggak kalah persiapan kudapan sebanyak 2 bungkus. Gw sama Rama cuma modal aqua sama permen. Si Rio duduk sebelah Widhi dengan persiapan kudapan yang juga cukup matang. Raysa berdua sama Adita yang kebetulan dua-duanya jomblo sepertinya punya persediaan kudapan yang cukup juga karena duduk dibelakang jadi enggk keliatan. Oki, Habib, Fadol, dan Ibay duduknya berpindah-pindah di paling belakang deket smoking area. Bus jalan jam 16.30, diperjalanan ada yang minum antimo, ada yang makan biscuit, ada yang ngobrol, ada yang tidur, dan ada yang jomblo juga (eh disebut lagi ya, sori ya Ray).

Sampai Terminal Guntur (Garut) jam 22.30. Setelah turun dan ambil barang di bagasi, Ibay segera menelpon Mang Sasa sebagai supir pick up jemputan untuk menanyakan di mana posisi beliau. Ternyata Mang Sasa udah sampai, Mang Sasa memberikan petunjuk di mana dia berada yaitu di bawah tower merah di sebelah barat terminal garut. Teka-teki yang menarik ini kami coba pecahkan dengan mencari tower dan mudah sekali terlihat, setelah yakin arah tower tersebut, lalu kami mencoba mencari jalan ke sana. Di tengah jalan kami selalu saja ditanya “mau kemana” sama supir angkot maupun elf. Dalam hati gw kepingin jawab “ke Surga bro, mau ikut enggak?” tapi enggak sih, kami milih diem karena kalimat tanya sang supir yang disampaikan itu sambil teriak-teriak ngomel dan terkesan memaksa. Ketika hampir sampai di tower ditambah hiruk pikuk pertanyaan annoying kita bingung di mana Mang Sasa berada, oleh karena itu kami putuskan berhenti di dekat lapak tukang sayur. Benar saja beberapa menit kemudian datanglah Mang Sasa, berpakaian jaket berwarna biru telur asin dengan kapucon yang dikenakan, lalu beliu berbisik di belakang kita menunjukkan di mana posisi mobilnya di parkir, rada kaget gw sebenernya dan dalam benak gw: ini kemunculan Mang Sasa semacam Bandar Judi yang mau transaksi Ganja aja, misterius bro.

Ngompreng

Ngompreng

Oke saatnya ngompreng di atas pick up malem-malem sambil nahan kencing karena dinginnya udara, sedaap.  Pick up Mang Sasa melaju begitu cepat melibas tanjakan berkelok-kelok menuju Gerbang Cisurupan Kaki Gunung Papandayan. Sampai di gerbang tersebut sekitar 1 jam perjalanan. Perjalanan lancar dikondisi arus lalu lintas yang sepi. Setelah tiba di gerbang Cisurupan,tujuan selanjutnya adalah Camp David. Dari gerbang Cisurupan kondisi jalan mulai memburuk, banyak lubang di mana-mana. Seakan tak peduli keberadaan lubang, pick up terus melaju menembus jalan dengan perlahan, berguncang di atas pick up dan kami lihat hampir saja Oki melambung melayang kemudian terjatuh berulang kali, pengalaman yang menyenangkan. Kemudian saat mencapai ketinggian 1900 mdpl (sebelum camp david) kami melihat pemandangan di belakang kami, kota garut dengan sinar lampu yang lembut tertutup kabut, dan juga yang paling menarik adalah nuansa kegagahan dan keheningan bayangan siluet gunung Cikurai yang terlihat hitam dan berkabut tipis, wow sekali pokoknya. Di tengah kedinginan yang menusuk tulang selama perjalanan, akhirnya Camp David mulai terlihat, alhamdulillah sampai sudah kami di sini, kemudian dengan segera kami mengemasi barang kemudian turun dan segera melapor ke pos.

Camp David

Camp David

Camp David merupakan pemberhentian pertama, di lokasi ini terdapat pos inap yang kebetulan kosong jadi kami tidak perlu membangun tenda. Kami secara bergantian sholat magrib-isya jamak takhir di qasar, sebagian dari kami memasak mie dan menyeduh teh, kopi bukan pilihan karena harus tidur malam ini. Setelah acara makan malam selesai kami segera pergi tidur dengan posisi menggulung diri dalam SB, dingin bro. Terlelap membuat kami semua bermimpi sedang membasuh muka di kawah dengan air belerang hangat sambil makan roti bakar yang kami beli dari seorang pedagang roti keliling yang kebetulan lewat kawah seharga Rp 12.500, roti habis kami lahap, tapi kami baru sadar kalau tidak ada sisa uang dalam dompet, pedagang tersebut murka, saking murkanya sang pedagang melempar semua rotinya ke dalam kawah, lalu letusan gunung terjadi, korban satu-satunya dari letusan itu hanya si si pedagang yang mati tersembur roti isi batu panas, tidak rasional ya, namanya juga mimpi.

Pagi sekali jam 04.30 kami bangun, gw, Ibay, dan Ocha mencoba membangunkan teman-teman yang masih mimpi makan roti bakar. Asholatukhoiruminnanaum bro, merekapun bangun. Ibadah solat subuh dijalankan secara bergantian secara berjamaah, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memasak. Gw kebetulan udah selesai sholat lalu mencoba membantu dengan mengambil tanggung jawab memasak nasi, hasilnya: kegagalan yang luar biasa hahaha. Beras yang begitu keras ternyata masih keras seperti batu kerikil yang tajam. Pengalaman memasak nasi skala sedang selama gw penelitian di pulau terpencil dengan panci dan kompor berbahan bakar kayu rupanya bukan jaminan. Melihat kegagalan tersebut Adita membantu, kemudian Widhi turun tangan. Alhamdulillah beras tersebut mau berubah menjadi nasi yang nyaman di mulut.  Setelah menikmati nasi setengah matang, ngopi-ngopi dan beberes barang kami berkumpul kemudian Ibay menjelaskan trek secara umum lalu dilanjutkan dengan berdoa kepada Allah, tepat pukul 07.40 diteriakanlah biotekisme sebagai simbol semangat dan persatuan, kemudian kami bergegas melangkah menuju kawah.

Trek awal

Trek awal

Kondisi awal trek berbatu dengan kecuraman yang sedang berpemandangan asap kawah yang indah. Dilanjutkan dengan pijakan jalan yang masih tetap berbatu dan sedikit terjal dengan tambahan aroma belerang. Adita yang baru kali pertama mendaki, kelelahan, daypacknya kemudian dibawa oleh ocha, teman-teman menyemangati Adita. Adita mentalnya sekeras besi kemudian terus melaju melibas tanjakan berbatu. Keren bro lanjuuut.

Setelah melewati kawah kami melihat pemandangan unik di lembah, yaitu jejeran batu-batu yang disusun menjadi berbagai huruf yang mendeklarasikan nama grup ataupun pernyataan cinta terhadap seseorang. Ketertarikan membuat karya serupa langsung hilang mengingat carrier yang masih dengan mesra menempel di pundak. Ibay kemudian memberi petunjuk jalan yang dilewati, “nanti ambil yang bawah kanan bro” teriak ibay. Trek tersebut profilnya menurun, di ujung trek terlihat sungai, Ibay memberi informasi air tersebut aman, tanpa banyak bicara lagi kami minum secukupnya, dahaga terobati segar sekali :). Setelah dirasa cukup nongkrong di sungai, kami lanjut mendaki. Mulai setelah sungai trek terus menukik awalnya tidak begitu tajam hingga trek setajam silet yang cukup membuat dengkul mengambil napas setiap beberapa langkah. Beberapa dari kami khususnya yang gendong carrier teriak-teriak biar semangat “aaarrgghhhh..!! hooooii..!! huaaaah..!!” terjal bro. Dengkul di gas pol, telapak kaki di ayun, jidat dijaga biar tetep diatas. Nanjak terus sampai di sebuah belokan ke kiri tempat kami beristirahat. Merebah si fadol, jantungnya katanya berdegup kencang. Age berkomentar pegel pundak karena tali carrier putus yang sebelah kanan. Ibay sang juru kunci keep cool entah untuk menarik perhatian seseorang atau emang doi beneran selow :). Habib enggak ada keluhan, staminanya bagaikan unta padang pasir. Adita, Widhi, Raysa, dan Oki rebahan mereka sedikit bicara karena sedang meneguk air. Ocha yang selama perjalanan terus menggengam tangan Adita ikutan duduk. Rama yang sering diomelin Ibay merebah dibelakang. Rio, yang memilih spot rebahan agak jauhan dikit dari teman-teman lain, carriernya yang paling berat jadi bantal.

Rebahan

Rebahan

Setelah puas duduk kami melanjutkan perjalanan, dari situ belok ke kiri menuju tanjakan 45 – 70 derajat. Sudah dekat sama Pondok Saladah tujuan kita buat nge-camp. Kebetulan gw jalan paling depan dan Ibay dibelakang gw. Pas di persimpangan Ibay menunjuk arah kanan, kemudian Ibay jalan duluan, gw nunggu di persimpangan buat nunjukin jalan buat yang teman-teman yang masih dibelakang. Sambil ngitung temen-temen yang lewat, dengan hitungan baru 11 orang termasuk Habib yang saat itu terakhir muncul. Artinya si Rio yang belum muncul, sempet-sempetin foto sembari nungguin si empunya kamera yang tak kunjung datang. Asumsi kita mungkin si Rio kecapean lagi istirahat. Tapi dirasa terlalu lama, kebetulan gw yang udah duduk lama punya banyak cadangan tenaga sehingga gw menghibahkan diri buat turun nyusul Rio. Gw menyusuri jalan turun tapi enggak ketemu Rio, bahkan saat gw sampai di lapangan tadi tempat rame-rame istirahat Rio enggak keliatan keberadaannya. Firasat gw bilang klo Rio ngambil jalur lurus ke arah barat, yang artinya Rio keliru ambil jalan. Gw memutuskan enggak balik lagi manggil teman-teman soalnya terlalu lama buat kembali ke persimpangan Pondok Saladah. Kemudian gw berdoa semoga dikasih kekuatan fisik dan mental buat ngejar Rio. Gw berlari agak cepat sembari manggil Rio menyusuri jalanan lurus nan sepi dengan profil menurun dugaan terkuat yang gw punya adalah Rio pasti lewat jalan ini. Benar saja di tengah jalan gw ketemu sama 3 nenek-nenek, setelah bertanya apakah mereka melihat sosok ghoib berkepala plontos menggendong carrier dan bercelana panjang motif tentara, ternyata mereka melihatnya dan menunjukkan bahwa sosok tersebut sudah berada jauh di depan sana, katanya mereka melihatnya sekitar 1 jam yang lalu. Setelah mengucapkan terima kasih gw menambah kecepatan lari, kecepatan buat menemukan Rio penting soalnya gw takut nanti di depan kalau ada persimpangan dan Rio ngambil salah satu dari persimpangan itu makin memakan waktu nyarinya. 10 menitan berlari gw ketemu sama 3 orang bapak-bapak, dan bertanya kembali tentang sosok berkepala botak tersebut. Mereka bilang melihatnya sekitar 15 menit yang lalu. Alhamdulilah sudah dekat, berlari mulai menghabisi stamina, jadi gw memutuskan jalan cepat dan tidak lama kemudian bertemu dengan Rio, alhamdulilah. Setelah bertukar beban carrier, kami pun balik arah ke arah lapangan, menelusuri trek yang menanjak.

Sesampainya di lapangan kami bertemu 3 nenek-nenek tadi, kemudian kami melempar senyum dan lambaian tangan tanda terima kasih. Melanjutkan perjalanan kami berdua di tanjakan kami bertemu Habib, Ocha, dan Rama. Ocha segera menggantikan gw membawa carrier Rio. Kami pun bergegas menuju Pondok Saladah.

Kami berduabelas lengkap sudah sampai lokasi camp ini pukul 11.20. Kemudian kami bersama-sama mendirikan tenda. Kegiatan selanjutnya adalah makan siang, tim memasak yaitu Widhi, Adita, dan Raysa, menu siang ini adalah nasi goreng kornet plus nugget. Sebagian dari kami ada yang mencari kayu bakar dan ada pula yang mengambil air, serta sebagian lain membantu memasak dan membuat kopi.

Jam 12.00 teng kami menunaikan ibadah sholat dzuhur, kemudian kami segera melahap habis makan siang yang lezat itu. Seusai makan masing-masing dari kami bernegosiasi dengan dengkul, dan memutuskan untuk istirahat sejenak di dalam maupun di luar tenda. Kebetulan turun kabut siang itu, jadi suhu udara menjadi lebih dingin dan secara ajaib menyajikan kondisi tidur siang yang menyenangkan.

Selama hampir 2 jam memejamkan mata, waktu menunjukkan waktu sholat asar sudah tiba. Kami pun segera sholat, kepala kami bersujud hanya kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta Gunung Papandayan dan Segala isi Langit dan Bumi. Setelah sholat, gw, Age, dan Fadol berkeliling untuk mencari tambahan kayu bakar. Selagi mencari kayu bakar kami tiba di suatu bagian hutan tepat di pinggir hamparan bunga edelweiss, yang entah kenapa banyak sekali tissue yang dibuang sembarangan di sana. Bagaimanpun lingkungan tersebut bukan tempat sampah bro, sayang sekali masih terdapat pendaki yang kurang mengerti tentang kebersihan. Seusai mengumpulkan kayu bakar kami kembali ke tenda. Saat kami tiba teman-teman lain seperti biasa sedang melepas kepenatan dengan canda. Waktu menujukkan pukul 17.25, masih satu jam lebih awal untuk masuk waktu makan malam, tetapi rasa lapar sudah melanda, terlihat bahwa suhu dingin membuat sekumpulan makhluk homoiterm seperti kami membakar banyak kalori untuk mempertahankan suhu tubuh. Kami memutuskan untuk mulai memasak, Oki yang masih terlelap segera bangun menghampiri sumber hiruk-pikuk lentingan gesek antara logam panci dengan kompor. Di sebelah selatan, Age mulai menyusun susunan kayu bakar untuk api unggun malam ini, bentuk susunanya sempurna, tetapi agak unik memang dengan penempatan satu batu yang sangat besar di tengah-tengah, itulah Age si kadal cangkul berkloaka yang anti-mainstream, piss bro. Demi nyala api, kami sudah memboyong dua buah tube berisi cairan bunsen yaitu spiritus, ditambah dengan satu kotak parafin berisi delapan keping. Tambahan komposisi yaitu bara hitam yang diangkut Age dan Fadol dituang kedalam api. Sedang asik membuat racikan api unggun waktu menunjukkan pukul 18.00, Ibay kemudian mengumandangkan adzan magrib, walaupun suhu dingin, alhamdulilah niat kuat kami beribadah membuat kami tidak enggan berwudhu sebelum sholat jamak takdim magrib – isya kami laksanakan berjamaah. Seusai sholat dan berdoa, tepat pukul 18.40 bonfire burned.

Bersamaan dengan lahirnya api, makanan pun tersaji, siap untuk disantap lengkap dengan seduhan kopi jahe pemberian pendaki lain yang baik hati saat kami berada di Camp David. Menu makanan di depan kami yaitu nasi, mie goreng dengan sarden di atasnya, serta kuah bakso tanpa bakso, sedaap bro. tim memasak emang paling kece dah masakannya. Dengan mengelilingi api ungun kami makan berjamaah. Setelah puas dan kenyang, seruputan kopi menambah kehangatan tubuh di tengah kabut tebal. Kemudian di sekitar api unggun kami bernyanyi ala disko darurat (baca: karoke darurat) bermodalkan smartphone Habib dan speaker eksternal Fadol, walaupun Fix You yang entah kenapa enggak sampai ke play di reffnya, enggak apa-apa yang penting hepi :). Tak terasa malam semakin larut dengan kabut yang semakin tebal. Empat pria yang telat kebelet kencing (sebelumnya Ocha, Rama, dan Ibay sudah duluan) yaitu gw, Age, Habib, dan Fadol berinisiatif menuju sungai. Sinar headlamp enggak mampu menembus tebalnya kabut, jarak pandang hanya 3 – 4 meter. Jarak sungai yang lumayan dari tenda membuat kami khawatir tersesat, karena itulah kami memutuskan kencing di semak-semak. Saat ingin kembali ke kemah, kami sempat kebingungan arah, gelap betul bro kabutnya, alhamdulillah ketemu juga jalan kembali. Sesampainya di tenda kami lanjut bernyanyi sebentar kemudian masuk kedalam SB dan mencoba untuk tidur. Sulit sekali tidur malam itu, dinginnya menusuk, apalagi teman-teman yang menggunakan “suncream” menggigil sampai ketulang. Walaupun sulit untuk tidur dan merasakan malam yang sangat panjang, singkat cerita akhirnya tertidur juga.

Pagi dini hari, pukul 03.40 saatnya menyeduh “bubur instan super” dan roti isi topping coklat plus kismis, enggak lupa kopi hangat yang nikmat. Menyeruput kopi sambil mengigil hingga waktu subuh tiba, semakin mengigil lagi saat kulit bersentuhan dengan air wudhu, brrr… At Takasur, mengingatkan kita agar tidak sombong, Gunung yang demikian besar nan kokoh yang di mention dalam Al Quran sebagai tonggak penahan Bumi agar tidak goyah, bandingkan dengan ukuran manusia yang sangat kecil. Saking kecilnya mudah sekali untuk dilumatkan, astagfirullahaladziim, ampuni hamba ya Allah tidak pantas ada kesombongan dalam diri hamba.  Allahuakbar sujud kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta, pagi yang syahdu, waktu subuh yang indah. Subhanallah.

Setelah kenyang kami bersiap mendaki sampai puncak, tetapi sayang sekali, hanya kami bersepuluh saja yang pergi. Raysa dan Rama stay di tenda. Waktu menunjukkan pukul 06.30 kami berdoa sebelum berangkat kemudian pergi melangkah. Tujuan pertama adalah Hutan Mati, kondisi trek ke lokasi tersebut becek dan menembus semak-semak, hajaar. Selama perjalanan terdengar Age, Habib, dan Fadol bernyanyi bersemangat. Trek saat tiba di Hutan Mati mulai menukik naik, nyayian-nyayian mulai perlahan berhenti kemudian benar-benar hilang saat kami tiba di trek tanjakan, di mana jidat bertemu dengan dengkul. Naik-naik ke puncak gunung, jidat bertemu dengkul, kiri kanan kulihat saja banyak semak dan jurang, kami berusaha sekuat tenaga agar sampai tujuan, biar lelah tetep hepi :).

95 deg

95 deg

Tidak lama kemudian kami sampai di Tegal Alun, hamparan bunga edelweiss di mana-mana, menurut wikipedia Papandayan merupakan padang edelweiss terluas di Indonesia, subhanallah. Setelah berfoto-foto sedikit kami melanjutkan perjalanan, menembus semak belukar yang masih banyak menyimpan embun pagi, tidak heran kalau jaket kami basah kuyup. Setelah menembus semak, kami mendapati kembali tanjakan jidat dengkul, kecuramannya dibarengi dengan keindahan hamparan bukit dan kawah papandayan, serta siluet gunung Cikurai yang lancip tajam. Beberapa kali kami beristirahat di tengah perjalanan, menghilangkan dahaga, Adita sesekali menghirup tabung oksigen.

Edelweiss

Tegal alun

Menanjak menanjak menanjak, kemudian kami bertemu dengan Puncak Bayangan, pemandangan di sini indah sekali, tulisan ini enggak mampu menuliskannya, pokoknya pengalaman yang harus dirasakan dan dipahami secara langsung. Tidak jauh dari puncak bayangan, kami menemukan Puncak sesungguhnya, 2665 mdpl. Hepi bro, saling menyalami satu sama lain, mengucapkan selamat, menarik nafas dalam, menikmati puncak, terdiam mencicipi udara, merenungi kebesaran Allah. Setelah puas menikmati puncak, kemudian masing-masing dari kami memberikan komentar dalam video rekaman Habib. Setelah berfoto bersama, kami memakan kudapan coklat dan gula merah serta meneguk air, lalu kembali turun menuju tenda dengan tersenyum. Pengalaman yang menyenangkan.the summit 2665 mdpl

Best Regards

Eka Primasatya

Penyebab Rio tersesat.

Hari ini gw kebetulan bareng Age sama Yoga HI 2012 pergi bertamu ke rumah Rio, dari kampus jam 17.00 sampe rumah Rio jam 18.00, pas kita sampe doi belum sampe rumah, Rio masih berenang bareng adek nya Ika di Simprug. Sembari nunggu kita sholat dulu di mushola sekitar situ abis situ makan di seberang rumah Rio. Singkat cerita akhirnya langsung bertamu tuh setelah Rio ngabarin udah sampe rumah. Ngobrol-ngobrol sambil membuat komentar tentang foto-foto yang ada di tampilan layar laptop Rio. Nah ditengah pembicaraan karena penasaran aja, soalnya Rio enggak banyak cerita kenapa dia tersesat kemarin. Kurang lebih begini:

“io sebenernya lu berapa lama istirahat sampe enggak liat kita belok kiri? di situ bahkan kita sempet foto-foto dulu lho” gw memulai pembicaraan.

“Iya io ko bisa sih lu enggak liat kita pada belok kiri pas di lapangan? jarak kita deket banget lho” Age nambahin.

“enggak lama kok, abis lu (Age) jalan persis gw lanjut jalan, nah gw inget kata ibay kalo nanti jalannya ada turunan, pas gw di lapangan gw emang liat jalan kecil sebelah kiri, dalem pikiran gw enggak mungkin ke situ jadi gw lurus tuh dan emang turunan semua sih” jawab Rio setengah-setengah.

” lu ketemu nenek-nenek sama bapak-bapak masing2 tiga orang enggak di jalan?” selidik gw, penasaran aja sebenernya nyata apa enggak itu nenek yang gw temuin pas nyari Rio.

“iya ketemu bang, sebenernya gini bang gw lurus itu karena ngikutin Age” Jawab Rio lagi.

“….. serius lu?, oi ge denger enggak lu rio ngikutin lu lurus pas di lapangan” timpal gw kaget.

“… hah? gw?” Age bingung.

” iya, tapi lu ngilang pas di pertigaan yang satu ke arah jurang yang banyak pipa, satu lagi ke arah jalan kecil, nah gw kebetulan ketemu satu bapak gw nanya arah puncak papandayan dimana, di situlah gw puter arah karena kata bapaknya gw salah jalan” jawab Rio.

Age enggak mungkin lurus karena pada saat itu udah nongkrong duluan di pondok saladah selain itu Rio juga cerita tentang tikus mati di tengah jalan yang enggak lazim ditemui, jalan kecil begitu sepi enggak ada orang sama sekali, yang kalau di film-film tuh ada bangke kaya gitu semacam early warning. Biar bagaimanapun gw dan Age bahkan si Yoga agak speechless denger cerita itu. Rio lebih banyak diem di tenda tentang ketersesatannya itu, mungkin pada saat itu doi juga bingung apa yang sebenarnya terjadi. Alhamdulillah berakhir dengan happy ending.

Arah jalan yang Rio ambil

Arah jalan yang Rio ambil