Catatan perjalanan salak.

Gn Salak

Salaka, perak, puncak 1 (2221 Mdpl), pendaki hilang, kecelakaan super airjet Sukhoi, menghiasi gelar Gn Salak. Rasa penasaran mengisi wadah dalam hati, kemudian menjelma menjadi komunikasi mengenai rencana pendakian diatara empat manusia. Empat manusia itu bisa juga disebut Eka, Rio, Imam, dan Okky. Diantara kami berempat belum pernah ada yang mendaki ke sana, pengetahuan tentang kondisi Salak banyak kami dapati dari blog dan OANC kaskus. Tanggal keberangkatan yang ditunggu-tunggu tiba, 28 November 2013, kami berencana berangkat ke arah Cicurug kemudan melewati jalur Cidahu (Javana Spa) untuk menuju puncak salak 1. Seperti biasa kami seharusnya menuju Terminal Lb. Bulus untuk menuju Cicurug, tetapi kami beruntung mendapatkan “tumpangan” mobil yang mengantarkan kami hingga Cidahu, musibah menerpa di tengah perjalanan yaitu kami mengalami kerusakan kanvas kopling di ujung tol Ciawi tepatnya jam 00.30. Kondisi ini membuat kami menginap di bengkel hingga pagi hari, alhamdulillah reparasi selesai tepat am 05.00 kemudian kami berangkat menuju Cidahu.

Bengkel Kalong

Bengkel Kalong

Narsis dihalalkan, soalnya klo ilang ini narsis terakhir.

Narsis dihalalkan, soalnya klo ilang ini narsis terakhir.

Sampai di Cidahu 29 November 2013 pukul 08.00, kami mengurus izin mendaki di Pos, foto-foto evakuasi pendaki tewas hingga kecelakaan Sukhoi menyambut kami. Setelah itu kami segera meneruskan perjalanan menuju Pos Pendakian Kawah Ratu dan Puncak Salak 1 melewati jalanan aspal yang cukup panjang, beruntung kami di dalam mobil sehingga tidak merasakan efek lelah yang pasti terjadi kalau jalan kaki. Setelah meng-unload carrier bawaan kami berpamitan sama empunya mobil yang tidak lain adalah Bokap gw, kemudian berfoto-foto sejenak lalu berdoa sebelum pendakian dimulai.

Cuaca cerah sekali alhamdulillah, pukul 08.30 kami mulai mendaki jalur Pos Pendakian HM 0 – Pertigaan Bajuri HM 24, trek yang dilalui memiliki karakter naik turun dengan sedikit bonus atau flat surface. Selain itu menyebrangi antara 3 atau 4 kali sungai kecil selama perjalanan ke Bajuri. Perjalanan sampai bajuri memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan. Kami bertiga beristirahat sejenak di Bajuri sambil menyiapkan makan siang. Kemudian setelah memastikan jerigen 5L dan 2L serta 7 botol aqua 1.5L sudah terisi penuh. Bukan tanpa alasan, tempat ini merupakan sumber air terakhir, sumber air berada di sungai yang jaraknya hanya beberapa meter dari Bajuri di jalur menuju Kawah Ratu.

Siapa bilang dengkul sama jidat enggk jodoh? ga percaya coba disini.

Siapa bilang dengkul sama jidat enggk jodoh? ga percaya coba disini.

12.30 kami melanjukan perjalanan menuju Puncak 1, dari sini patok HM berawal dari 0 lagi. Bajuri HM 0 – Puncak Salak 1 HM 46. Trek yang dilalui yaitu merupakan perpaduan antara akar-akar pohon, tanah lembab, kubangan lumpur, dengan keterjalan yang menyambut tepat setelah trek ‘bonus’ yang sangat langka.

Lumayan curam

Lumayan curam

Biar kata dengkul racing jg bisa overheat

Biar kata dengkul racing jg bisa overheat

Mulai terasa berat saat HM 30, faktor utamanya bukan karena kondisi trek. Carrier yang sepertinya overload logistik melemahkan fisik sedangkan rupa trek dan matahari yang mulai tenggelam ditambah kabut tebal yang mulai turun sedikit banyak memeras mental. Patok HM demi HM merupakan kewajiban dilalui dengan keteguhan hati. Hari mulai gelap, kami memutuskan nge-camp di HM 33.

18.30 kami masih memasak untuk makan malam, 19.00 makanan tersaji dan kami mengundang rombongan pendaki dari Bogor yang saat itu kebetulan lewat untuk bersama-sama makan malam. Setelah usai makan malam rombongan pendaki dari Bogor melanjutkan perjalanan menuju puncak 1 setelah mengucapkan salam lestari. Kami kemudian bergurau sembari menghabiskan kudapan yang kami bawa di depan tenda. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan menuju Puncak 1 esok pagi, tetapi kami memutuskan untuk kembali turun esok pagi. Dan berencana menyentuh Puncak Salak 1 pada kesempatan yang berikutnya.

Sarapan pagi, isi tenaga buat turun.

Sarapan pagi, isi tenaga buat turun.

Pemandangan dari HM 31

Pemandangan dari HM 31

09.00 setelah sarapan kami turun menuju Pos Pendakian. Camp HM 33 – Bajuri HM 0 ditempuh dalam waktu 3 jam. Bajuri HM 24 – Pos satu HM 0 ditempuh dalam waktu 1.5 jam. Setelah lapor kepulangan kami di Pos kami naik angkot putih Cidahu – Cicurug dengan biaya Rp 15.000 per orang, kemudian dari Cicurug – Stasiun Kereta Bogor kami naik angkot hijau dengan biaya Rp 10.000 per orang. Di Stasiun Bogor kami berpisah, ada yang ke Stasiun Bekasi dan Ke Stasiun Sudirman. Selama menunggu kereta kami memandang ke arah barat daya “sampai jumpa lagi Salak”.

Gunug salak terlihat gagah dari Stasiun Bogor

Gunug salak terlihat gagah dari Stasiun Bogor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s