Melankolis.

Siluet seseorang sekelebat menembus celah kecil retakan tembok

Langkahnya tidak lambat maupun terlalu cepat

Ia kemudian mendengar satu grup pengemis jenaka bertukar tawa

Sesuai dugaan, jenaka kini tak lagi menarik baginya

Lalu duduk di atas gundakan tatapannya kosong

Tekanan sandarannya menimbulkan decit kayu lapuk

Lahir sebuah retakan kemudian patah

Orang tadi tersungkur

Ia sedikit terkejut kemudian sadar

Bukan waktu yang tepat untuk berbaring

Lebih suka memilih bangkit daripada mati

Lebih baik menangis daripada harus membuat orang lain menangisinya

Ia berdiri

Kemudian tanpa peringatan hujan turun langsung deras

Begitu juga air matanya, ikut mengalir bersama air hujan masuk selokan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s