Catatan Perjalanan Ciremai via Linggarjati – Linggarjati.

 

Ciremai Mt.

Ciremai Mt.

Death is not the greatest loss in life. the greatest loss is what dies inside while still alive. never surrender” – Tupac Shakur

Perkenalkan kami adalah pendaki pemula dengan niat tulus, murni, tanpa embel-embel lain, untuk menapaki berbagai summit di Indonesia. Pendaki liar yang bertuan satu, tidak lain adalah Tuhan kami sang pencipta Gunung diseluruh dunia, Allah SWT.

Gw sendiri, Eka Primasatya, domisili Jakarta kadang Bekasi, saat ini bekerja sebagai asisten peneliti tergabung dalam pasukan konsorsium vaksin dengue Indonesia. Kalau diurutkan berdasarkan jarak gw tempat tinggal dari terdekat hingga terjauh, perkenalkan teman saya, berperawakan agak gemuk dengan skala 8 dari 10, adalah Okky Dwi Pramudyawardani, ia seorang mahasiswa tingkat akhir dengan objek tanaman karet sebagai sumber penelitiannya. Kemudian, Raysa Fatria, sama ia juga mahaiswa tingkat akhir dengan tema penelitian yang masih galau, karena pernah mengambil vaksin dengue namun terluntang-lantung dengan dana penelitian dari pemerintah yang tak kunjung turun. Kemudian Imam Rosadi, anak rantau asal Kalimantan Timur, punya kemampuan membunuh buaya dalam sekejab dengan tangan kosong, ia baru saja pulang ke ibukota setelah memperdalam seni berbahasa di Kampung Inggris. Lalu, Rio Aditya berperawakan koko, asal Lampung, ia adalah pewaris tunggal kerjaaan Mangga Dua, terdiri dari kios smartphone hingga lapak CD bajakan di wilayah kegelapan basement. Tak lupa anak Jakarta Timur, bertempat tinggal di batas terluar horizon kota Jakarta malah lebih dekat dengan Bogor: Cibubur, awalan ci khas jawa barat, dengan tambahan kata bubur dibelakang menambah kesan nasi sudah menjadi bubur, bermakna hampir dekat dengan jawa barat kenapa enggak sekalian masuk wilayah Bogor aja, gitu kira-kira, ia adalah Anita Mira Saraswati seorang jomblowers yang bersikeras berstatus wanita single, sedang mencari dengan serius buat digandeng sampai pelaminan. Lalu, penghuni daerah jauh penghujung Jakarta, dekat dengan Tangerang, ia adalah Haryono, sekarang bekerja di Mikrobiologi UI masuk anggota konsorsium vaksin dengue baru-baru ini, dengan gesit ia rupanya mendapatkan belahan hati di Lab Mikrobiologi UI namanya adalah Miranti R C (kapan-kapan ajak nyummit no :D). Terakhir yang paling jauh, Muhammad Habib Pangeran, anak futsal, atlit, seorang Goal Keeper kebanggaan Fakultas Sains dan Teknologi, punya sepatu baru beli buat tapak tilas Linggarjati namun tak awet, jebol bahkan jauh sebelum pos Condang Amis (ini kena tipu lu bro sepatu KW ituu beli aja merk lokal yang udah teruji bro hahaha)

Habib - Ono - Ocha - Oki - Eka - Rio - Raysa - Anita

Habib – Ono – Ocha – Oki – Eka – Rio – Raysa – Anita

Perjalanan jalur petapa (baca: Linggarjati) dengan tujuan summit Ciremai, adalah tanah tertinggi di Jawa Barat. Dimulai pada tanggal 14 November 2014, jam 19.30 WIB naik bus Setia Negara tarifnya Rp 60.000, sampai bibir depan terminal Kp Rambutan jam 21.00 WIB baru mulai lanjut jalan. Singkat cerita keesokan harinya tanggal 15 November 2014 jam 04.00 di pertigaan Linggarjati, ngangkot per kepala kena Rp 10.000,  tepat jam 05.00 kita sampai di pos Linggarjati (600 mdpl) tiket masuknya naik, dan lagi itu pos bentuknya baru. Tiketnya Rp 20.000 per-orang. Usai sholat Subuh, kita berdoa bersama agar diberikan kesehatan dan keselamatan di jalur tengkorak ini. Setelah final checked logistik, dan memastikan nasi uduk yang baru aja kita beli gak lupa kebawa, dengan penuh keberanian kita injak jalur awal dengan riang. Konturnya agak miring dengan karakter Aspal halus, terbentang begitu hingga pos Cibunar (860 mdpl). Sesampainya di sana menyempatkan kaki untuk berleyeh-leyeh sejenak sekaligus memanjakan perut dengan nasi uduk special pake telor ceplok, sedap banget pokoknya, nikmat luar biasa. Stasiun pengisian air terkhir adalah di sini, karena itu kita isi semua botol dan jerigen tanpa celah sedikitpun buat udara dalam kemasannnya. Karena kita total berdelapan, jadi total air persediaan adalah 32 botol aqua 1.5L ditambah 2 jerigen ukuran 5L dan jerigen kecil ukuran 3L ( beratnya belok kerasa nih, nanti di seruni baru berasa 😦 )

Cibunar, opening trail

Cibunar, opening trail

Into the wild - menuju condang amis

Into the wild – menuju condang amis

Dengkul standar belum ada modifikasi (modifikasi koyo dan minyak tawon, belum), melenggang apik, melangkah ke atas bukan kesamping ya nanti masuk jurang, menembus Cibunar. Disuguhi pemandangan pohonan seperti pohon pinus berjejer rapi, dengan daun berguguran, trek pembukaan. Begitu terus hingga pintu masuk hutan, dengan ciri khas tumbuhan yang makin rapat, sebuah pertanda kita hampir tiba di Condang Amis. Berlabuh di Pos Condang Amis, menyempatkan diri berfoto tanpa Rio dan Ocha, mereka lebih dahulu menerobos jalur.

Condang Amis

Condang Amis

Sebelum menyusul mereka kami istirahat sejenak sambil bertegur sapa dengan kelompok pendaki lain. Setelah puas, dan bekal stamina yang masih sangat prima, kami bergegas menyusul Rio dan Ocha.

Shelter

Suasana syahdu di shelter sakti anti bocor

Di tengah perjalanan awan mendung memang sudah mengikuti sejak tadi, kali ini mereka mulai bertransformasi menjadi bulir air, hujan rintik-rintik. Memang adalah sebuah kode akan tiba hujan besar, kami meneruskan sedikit berjalan, ketika hampir saja sampai ke pos berikutnya, Kuburan Kuda, hujan dengan tanpa ampun turun dengan derasnya. Kami berlindung dibawah Flysheet sambil menyalakan kompor kemudian memasak. Ono dan Habib menyusul Rio dan Ocha yang berada di depan, memanggil mereka untuk ikut serta berteduh di bawah shelter. Menu siang ini adalah mie goreng kremes, kopi, nasi dan mie goreng matang lengkap dengan telur orak-arik, alhamdulillah kenyang. 2 jam kemudian (13.30), seusai sholat dan repacking, segera kami meneruskan perjalanan.

Illustrasi Kuburan Kuda #cryinglaugh

Illustrasi Kuburan Kuda, yang depan nahan kentut eh kepleset kaki, alhasil yang di belakang hampir mati suri mendadak, beruntung hanya sebagian kecil dosis yang dihirupnya

Sampai di Kuburan Kuda sekitar pukul 14.45, mulai dari sini trek mulai menukik terus hingga summit. Hujan deras membuat kontur tanah menjadi licin, Raysa dan Oki berkali-kali terpeleset menaklukan tanjakan awal Kuburan Kuda. Beberapa kali beristirahat, akhirnya kami melihat sekelebatan tanda-tanda Pos Pengalap. Sudah ada satu tenda yang berdiri di sana. Jam tangan menunjukkan pukul 15.40. Ngistirahatin dengkul dan menurunkan detak jantung di sana, sejenak duduk sambil nyempetin nyemil mie kremes. Persiapan raga dan mental selesai, siap nyisir Tanjakan Seruni dan Bapa Tere di depan. Tempat dimana dengkul dan jidat ditakdirkan menjalin cinta.

Trek Pengalap gak setajam Kuburan Kuda, karakternya santai dan anggun, tibalah kami sekitar jam 17.15 di gerbang Tanjakan Seruni. Sebelum menggempur Tanjakan ini air teh panas diseduh, disimpan sebagian, dan lainnya ditenggak habis. Headlamp sudah terikat dikepala, plat besi berwarna kuning bertuliskan Tanjakan Seruni mulai memudar berbarengan dengan hilangnya cahaya langit.

Flat trail never made a skilled hiker - SERUNI

Flat trail never made a skilled hiker – SERUNI

Seruni, melangkah kami dalam gelap, sumber cahaya kami bukan hanya dari headlamp tapi juga cinta dari dalam hati (#tsah). Trek begitu licin dan curam, ujian demi ujian diberikan dalam satu chapter seruni yang seperti tak berujung. Carrier dipundak seperti bongkahan tambahan yang mulai menggangu, menghardik dengan kasar dalam hati mengenai beratnya beban, tapi tak sampai dimulut. Sangat berbahaya jika keluhan ditransalasi dengan gelombang suara, dapat menyebarkan keruntuhan mental bagi teman disekitar. Tertawa dan tersenyum lah kawan! Terus menanjak tanpa henti, hingga di suatu titik kami berhenti. Pukul 21.30 rintik hujan turun kembali, kami segera menggelar flysheet. Tiga diantara kami, Gw, Rio, dan Habib segera ke atas lebih dahulu mencari lapak untuk menggelar tenda. Menemukan suatu tempat lapang namun agak miring sedikit. Gangguan serangga-serangga yang dapat menggigit seperti lebah dan semut datang memperkeruh kegiatan buka tenda. Hampir selesai tinggal outer layer yang belum melekat sempurna, hujan dengan derasnya mengguyur. Dinginnya sangat menyiksa, kami bertiga tidak boleh kelaparan, menurut beberapa informasi hipotermia akan terjadi saat tubuh kita kehilangan panas tubuh dengan cepat karena beberapa sebab salah satunya perut kosong. Meringkuk bertiga dan menahan mata untuk tidak tidur. “Bro, kita yang sudah menunaikan sholat aja begini ya, gimana enggak” Rio berucap karena banyak mengalami cobaan dalam jalur petapa. Dalam hati: klo gak sholat mungkin kita ketemu macan yang lapar, bukan sekedar serangga kecil. Kami mengkhawatirkan keadaan teman-teman yang di bawah, mereka pasti kedinginan di bawah flysheet. “Mudah-mudahan semua baik-baik saja, berdoa dalam hati yuk”. Merasakannya secara langsung adalah hal yang sama sekali berbeda dengan mendengar atau mengetahui, diakhir hujan kami mendapati kabar baik, semua tidak apa-apa, tidak ada hal-hal mengerikan seperti hipotermia yang menyerang teman-teman. Alhamdulillah. Singkat cerita kami tidur tanpa merencanakan esok pagi mengejar summit pukul berapa.

Sarapan Sehat - MSG MAKSIMAL

Sarapan Sehat – MSG MAKSIMAL

Tak lama berjalan, tersenyum selagi sempat. BAPA TERE

Tak lama berjalan, tersenyum selagi sempat. BAPA TERE

Perjalanan dilanjutkan kira-kira pukul 09.00 pagi, tentu setelah selesai sarapan. Badan terasa sangat ringan tanpa carrier, menyenangkan sekali. Karena tak yakin apakah kami sudah melewati Bapa Tere atau belum, maka gw bisikkin Rio yang paling depan untuk mencabut atau menutupi plang itu jika menemukannya. Misi mengelabui teman-teman gagal total karena tak lama kemudian semua melihat plat kuning Bapa Tere tersebut. “Selamat merayap #sambilsenyum” bisik angin yang diterjemahkan oleh gesek daun pohon perdu. Dulu waktu lewat sini tak ada tali-temali, sekarang lebih manusiawi, ada tali yang membantu kami untuk merambahi treknya.

Crawl like a spider, roar like a lion, do not cry like a baby. The wall of bapa tere.

Crawl like a spider, roar like a lion, do not cry like a baby. The wall of bapa tere.

Setibanya di Sangga Buana, hujan deraaas lagi-lagi mengguyur. Menggeragas mental tentu saja. Mental dengan kelembutan tingkat tahu-tempe pasti sudah terpotong-potong dengan kejam. Setelah reda, langsung babat habis Batu Lingga 1 dan Batu Lingga 2.

Setibanya di Batu Lingga 2 seorang kawan kami yang bertubuh gempal tiba-tiba meneteskan hujan dari kelopak mata juga hidungnya. Kami menyemangati, tapi tak mempan. Meminta semangat dari beberapa pendaki juga tak di dengar. Hingga kami bertemu pendaki wanita bermulut racun, membuat teman kami semakin tercabik jiwa nya dan memutuskan untuk ikut turun bersama mereka. Tentu saja kami ber-3 ikut turun saat itu menjaga teman kami yang sedih. Berjaga jika saja mereka meninggalkan kawan kami begitu saja di tengah perjalanan turun. Tak sempat izin dengan 3 kawan yang sudah lebih dahulu sampai di pengasinan, dengan pisah jarak kami hanya 1 tanjakan. Semoga pesan telepati sampai ke kalian ya kawan yang sudah tiba di pengasinan, kami izin turun ke tenda lebih dahulu. Drama, Drama, Drama everywhere.

200mdpl left to the summit. PENGASINAN

200mdpl left to the summit.
PENGASINAN

Sampai di tenda sekitar jam 16.00, ngemil-ngemil sedikit sambil beristirahat. Sela dua jam kemudian, Cepol, Ocha, dan Rio sampai di tenda. Memasak, lalu bersiap-siap untuk turun. Repacking selesai sekitar jam 20.30, berdoa kemudian beranjak turun. Pemandangan city night view menemani kami, begitu juga sesosok anak kecil berkulit pucat yang merangkak. Singkat cerita kami sampai di Cibunar jam 02.30.

Bergegas mengejar kereta, kami segera beranjak carter mobil Rp. 200.000 untuk sampai di Stasiun Cirebon. Kami sampai tepat 15 menit sebelum kereta berangkat, rupanya kereta Eksekutif, lumpur kering menempel di segala bagian tubuh, penumpang lain melihat kami dengan pandangan yang “iyuh” cuek aja deh :D. Kereta kami hanya sampai karawang karena kehabisan tiket Jakarta. Lanjut dari karawang menaiki bus, Rp. 12.000. Sampai Kp. Rambutan sekitar jam 12.30. Walau tak sampai summit, tidak apa karena kami semua selamat dan sehat. Alhamdulillah.

HAPPY WEDDING BANG DIMS dan KAK AIDA. (khilaf enggak kefoto waktu di pengasinan)

HAPPY WEDDING BANG DIMS dan KAK AIDA. (khilaf enggak kefoto waktu di pengasinan)

 

Gunung tak kan lari, yang berlari adalah waktu.

Gunung mungkin berubah, begitupun catatan perjalanannya.

Gunung bisa saja bertambah dengan erupsi lava, seperti bertambahnya pengalaman dan bahan cerita untuk inspirasi anak dan cucu kelak.

Indonesia sangat indah untuk ditinggal tidur dikala akhir pekan, berpetualang lagi yuk 🙂

 

Perjalanan yang menyenangkan.

Memori ini bakalan jadi bahan baku ngeluarin Patronus saat Dementor menyerang. 😀

Advertisements