Melankolis.

Siluet seseorang sekelebat menembus celah kecil retakan tembok

Langkahnya tidak lambat maupun terlalu cepat

Ia kemudian mendengar satu grup pengemis jenaka bertukar tawa

Sesuai dugaan, jenaka kini tak lagi menarik baginya

Lalu duduk di atas gundakan tatapannya kosong

Tekanan sandarannya menimbulkan decit kayu lapuk

Lahir sebuah retakan kemudian patah

Orang tadi tersungkur

Ia sedikit terkejut kemudian sadar

Bukan waktu yang tepat untuk berbaring

Lebih suka memilih bangkit daripada mati

Lebih baik menangis daripada harus membuat orang lain menangisinya

Ia berdiri

Kemudian tanpa peringatan hujan turun langsung deras

Begitu juga air matanya, ikut mengalir bersama air hujan masuk selokan

Advertisements

Kalah.

Sebilah pedang terayun

Anginnya hampir saja menyayat telinga

Berikutnya pasti kena sasaran

Berdoa, sudah pasti

Berusaha, itu pilihan

Gemetar bukan lagi dirasakan

Terguncang sampai ke dada

Pedang tersebut kemudian menusuk

Dalam, hingga hancur usus duabelas jariku

Sakit, tentu saja

Mengucur semua darah dalam tubuh

Menjerit kematian

Satu detik bukan satu menit

Tapi otak sudah bukan pada tempatnya

Normal untuk kekalahan telak

Nafsu emosi benar-benar kejam

Kematian tak terelakkan