Benang jahit hitam.

DSC_0527

Urusan di kota kecil yang tidak padat bernama Berau, emang butuh firepower yang banyak bagi seorang musafir awam seperti gw. Beruntung atas izin-Nya seseorang yang spesial @ms_prmsty membantu gw dari kejauhan buat beberapa urusan surat menyurat dan kiriman barang. Alhamdulillah.

Tetapi lain cerita saat gw mendapati alat ukur gw rusak dan enggak bisa hubungin dosen pembimbing gw maupun @ms_prmsty karena di pulau yang jauh dari jangkauan provider komunikasi. Kejadian ini terjadi di pertengahan januari 2013. Bingung dan enggak berdaya, gw langsung lemes pas tau alat ukur suhu tanah gw rusak. Gw mencoba menenangkan diri dan berdoa. Gw pun kembali ke pos dan mencoba membongkar instrumen tersebut. Dugaan terkuat gw adalah salah satu kabel di instrumen tersebut bermasalah. Tapi gw enggk cukup punya keberanian buat ngelupas, khawatirnya nambah rusak.

Akhirnya setelah perdebatan panjang sama diri sendiri tanpa solusi, gw pun konsultasi sama pimpinan pos, pak Ben. Gw mau nitip pesen supaya alat pengganti ini bisa di datangkan dair Jakarta, gw udah berikan secarik kertas berisi satu paragraf SMS dan nomer @ms_prmsty ke pak Ben. Rencananya pas speedboat logistik pulang, pak ben bisa mengirimkan pesan darurat tersebut. Gw berfikir keras buat keputusan itu, dan merasa tidak mungkin sampai dalam waktu dekat, pasti memakan waktu setidaknya dua – tiga minggu paling cepet ke pulau ini. Dua sampai tiga minggu itu kebetulan sekali jatuh di rentang waktu tetas semua telur eksperimen gw. Gw merasa semakin lemes karena jelas sekali kalo penundaan ini bakalan ngasilin data yang bolong2. Lalu gw mencoba bicara sama mas Girboy dan mas Hidar ttg kerusakan alat. Setelah pertimbangan matang untuk tidak mengoyak kabel, solusi baru timbul, mas Hidar coba mengakali kabel tersebut, percaya atau tidak perbaikan ini hanya membutuhkan benang jahit yang diikat. Alhamdulilah teratasi, data suhu tidak terputus :D. Pertolongan-Nya begitu dekat.

“Tidak ada cobaan yang didatangkan pada seorang hamba kecuali sesuai dengan kemampuannya.” dan “Jangalah kamu berputus asa atas rahmat dan pertolongan-Ku” Maha Benar Allah atas segala yang diturunkan-Nya.

On going measurement

On going measurement

Tanpa sedikitpun keraguan.

DSC_0378

Malam yang dingin, bahan makanan yang terbatas, kesepian, smartphone yang unfunctional, mereka semua yang menemani gw dalam pengambilan data harian, selama kurang lebih empat bulan purnama. Ini kisah tentang konsistensi dan ujian integritas. Biar enggk roaming, integritas menurut referensi adalah sesuatu yang dibenarkan oleh hati dengan kata lain pondasi dasar dari kejujuran. Iya bener ini ujian hati.

Setiap hari gw harus mengukur 288 titik pengukuran ditambah 28 poin tambahan dalam empat waktu yang berbeda, jam 05.00, 11.00, 17.00, dan 23.00. Setiap kali mengukur kurang lebih membutuhkan waktu 1 – 1.5 jam. Setiap tetes darah dan keringat gw nikmati, dan alhamdulillah gw sadar ketidakpentingan sifat keluh. Beberapa aktifitas harian lain untuk bertahan hidup seperti menombak, memancing, dan memasak adalah wajib. Dengan berburu gw mengambil pelajaran pentingnya momen dan kondisi lingkungan sekitar. Biasanya setelah pengukuran di jam 23.00 selesai, pergi ke tubir bawa tombak buat nyari ikan. Paling baik dilakukan saat bulan mati ataupun cuaca mendung, gelap gulita adalah waktu yang tepat. Timing is everything when you want to go hunting.

Rasa rindu sama keluarga adalah hal lain yang gw alami, setiap jengkal jejak di pulau ini buat gw punya kesan yang dalam. Keajaiban pertolongan Allah SWT adalah hal yang sulit gw lupakan. Ketidakterbatasan pertolongan-Nya ini sangat sulit untuk dibagikan, ya memang benar, sudah disebutkan dalam Al Quran, seandainya seantero lautan jadi tinta buat nulis nikmat Allah enggak akan cukup, walaupun ditambah lagi dalam jumlah yang sama. Setitikpun keraguan tidak hadir untuk kebenaran ayat-ayat Al-Quran, kitab yang diturunkan-Nya untuk seluruh umat manusia.

Subhanallah. Maha Besar Engkau atas segala sesuatu yang Engkau ciptakan.

Strong will.

DSCN0060

Penelitian mengenai laju tetas telur penyu dengan seabrek parameter secara in-situ malam itu  menjadi kegiatan yang nyata. Singkatnya proskrip yang berhasil gw buat menjelma jadi rundown acara. Sebelum ini memang gw telah berfikir akan sangat berat pekerjaan yang gw lakukan nanti, tapi gw keliru, fakta melampaui asumsi gw. Tetapi niat yg gw awali dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang alhamdullilah membuat jiwa gw selalu positif dan tenang.

Perburuan sebanyak 1400-an telur dilakukan dalam waktu kurang lebih dua minggu, dan dalam waktu tersebut juga terdapat overlapping kegiatan yang beraneka macam setiap harinya. Di satu sisi gw menikmati ketidakmudahan menjaga sisi kemanusiaan dan akal pikiran tetap waras di pulau yg sunyi ini. Di sisi lain gw merasa beruntung diberikan kesempatan Allah SWT untuk mengamalkan salah satu ayat di surat Ar Rahman ayat 9, tentang perintah untuk menjaga keseimbangan alam.

These all about  to be consistent over the long run.

Pengunduhan sarang

Pengunduhan sarang

The Island.

DSCN0027 copy

Akhir November 2012, akhirnya gw sampe di Pulau Bilang-bilangan. Berperahu ke pulau ini memakan waktu hampir tiga jam. Perjalanan ke sini ngelewatin sungai Lenggo dengan kecepatan rendah karena banyaknya akar bakau yang harus dihindari, klo udah sampe laut, kecepatan speedboat diputer sampe mentok. Oiya di jalan sempet mampir ke Pulau Balikukup, selain untuk ngambil perbekalan tambahan, ada beberapa kru TF yang mampir menemui keluarganya di sini.

Dalam empat bulan kedepan di Bilang2an ini gw bernaung. Gw merasa berada di tempat dimana segala pembelajaran yang enggak ada di kuliah, enggak ada di buku, bahkan enggak ada di kursus, akan gw alami. Apapun yang terjadi nanti semua itu gw yakini adalah hal terbaik yang gw butuhkan yang dikasih sama Allah SWT. University of life.

Pulau Balikukup

Pulau Balikukup

Desa Lenggo.

wpid-1363485425183.jpg

Menurut gugel dan beberapa referensi lain, musafir adalah orang yang melakukan perjalanan di muka bumi. Berikut ini merupakan sepicut kisah seorang musafir yang mengarungi sedikit wilayah Borneo Rainforest.

Setelah perjalanan panjang dari Tanjung Redeb, akhirnya gw bersama sekelompok orang tiba di Desa Lenggo. Ketika itu pas banget adzan magrib, gelitik hujan rintik-rintik membuat kami dengan segera nge-gotong tas dan keperluan logistik kedalem penginapan. Suara kegaduhan menyelimuti desa sepanjang malam, maklum beberapa penduduk menggunakan generator diesel buat penerangan. Iya bener banget lokasi ini emang terpencil, bahkan enggak ada di googlemap versi terbaru, PLN belum masuk, dan sinyal provider komunikasi yang pasang-surut. Tepat jam 00:00 WITA suasana mendadak hening dan terganti sama nada-nada tinggi jangkrik, waktunya tidur.

Pagi di Lenggo terasa dingin, waktu itu mendung banget hampir-hampir hujan lebat. Tapi kondisi cuaca kaya gini enggak sedikitpun menggerus semangat! \m/ . Pagi itu gw bersama seorang kawan dari TF (Turtle Foundation) langsung belanja sayur mayur, ayam hidup, telur, biskuit, gula, beras, dan keperluan logistik lain. Buat apa? iya ini semua buat bekal hidup di Pulau kecil tujuan kami hari ini yang sunyi tanpa penduduk, tanpa sinyal, tanpa listrik. Keranjang belanja udah lebih dari penuh, kami langsung menuju speedboat di pelabuhan mini. Setelah beberes, see you lenggo village.

Pelabuhan Lenggo

Pelabuhan Lenggo

Tanjung Redeb, Berau.

image

Kota baru, kesan pertama masuk Tj. Redeb itu sepi, berdebu, terik, kota tambang, pintu masuk yang gersang dengan deretan pohon yang kelihatannya tersiksa. Disamping itu sangat asing dan sangat mengundang untuk d jelajahi. Kota kecil ini dilintasi sungai kelai, tepian sungai ini sangat ramai kalo udah malem. Aneka jajanan malem selalu jadi magnet keramaian warga lokal. Mau parkir motor atau mobil bebas, tenang, dan damai, enggak ada mafia parkir kaya di Jakarta. Tingkat kejahatan juga minim di kota ajaib ini. Kenapa ajaib? Karena walaupun penduduk sini punya pendapatan lbh besar dari pendapatan rata-rata Jakarta, tapi juga berbanding lurus sama tingginya harga makanan. Hal menarik lainnya adalah kota ini cukup bersih, dan kalo liat ke horizon itu plong bgt, datarannya rata, enggak ada tuh gunung2 tinggi kaya di jawa. Flat. Gw di kota ini sekitar seminggu, ngapain aja? Mulai dari ngurus surat izin penelitian yang berliku – beli cabe Rp 10.000 dapet cuma 7 butir.
Overall di sini punya banyak kenangan buat gw. Perjalanan ini selalu gw nikmatin, entah itu pait ataupun sepet.