Catatan Perjalanan Ciremai via Linggarjati – Linggarjati.

 

Ciremai Mt.

Ciremai Mt.

Death is not the greatest loss in life. the greatest loss is what dies inside while still alive. never surrender” – Tupac Shakur

Perkenalkan kami adalah pendaki pemula dengan niat tulus, murni, tanpa embel-embel lain, untuk menapaki berbagai summit di Indonesia. Pendaki liar yang bertuan satu, tidak lain adalah Tuhan kami sang pencipta Gunung diseluruh dunia, Allah SWT.

Gw sendiri, Eka Primasatya, domisili Jakarta kadang Bekasi, saat ini bekerja sebagai asisten peneliti tergabung dalam pasukan konsorsium vaksin dengue Indonesia. Kalau diurutkan berdasarkan jarak gw tempat tinggal dari terdekat hingga terjauh, perkenalkan teman saya, berperawakan agak gemuk dengan skala 8 dari 10, adalah Okky Dwi Pramudyawardani, ia seorang mahasiswa tingkat akhir dengan objek tanaman karet sebagai sumber penelitiannya. Kemudian, Raysa Fatria, sama ia juga mahaiswa tingkat akhir dengan tema penelitian yang masih galau, karena pernah mengambil vaksin dengue namun terluntang-lantung dengan dana penelitian dari pemerintah yang tak kunjung turun. Kemudian Imam Rosadi, anak rantau asal Kalimantan Timur, punya kemampuan membunuh buaya dalam sekejab dengan tangan kosong, ia baru saja pulang ke ibukota setelah memperdalam seni berbahasa di Kampung Inggris. Lalu, Rio Aditya berperawakan koko, asal Lampung, ia adalah pewaris tunggal kerjaaan Mangga Dua, terdiri dari kios smartphone hingga lapak CD bajakan di wilayah kegelapan basement. Tak lupa anak Jakarta Timur, bertempat tinggal di batas terluar horizon kota Jakarta malah lebih dekat dengan Bogor: Cibubur, awalan ci khas jawa barat, dengan tambahan kata bubur dibelakang menambah kesan nasi sudah menjadi bubur, bermakna hampir dekat dengan jawa barat kenapa enggak sekalian masuk wilayah Bogor aja, gitu kira-kira, ia adalah Anita Mira Saraswati seorang jomblowers yang bersikeras berstatus wanita single, sedang mencari dengan serius buat digandeng sampai pelaminan. Lalu, penghuni daerah jauh penghujung Jakarta, dekat dengan Tangerang, ia adalah Haryono, sekarang bekerja di Mikrobiologi UI masuk anggota konsorsium vaksin dengue baru-baru ini, dengan gesit ia rupanya mendapatkan belahan hati di Lab Mikrobiologi UI namanya adalah Miranti R C (kapan-kapan ajak nyummit no :D). Terakhir yang paling jauh, Muhammad Habib Pangeran, anak futsal, atlit, seorang Goal Keeper kebanggaan Fakultas Sains dan Teknologi, punya sepatu baru beli buat tapak tilas Linggarjati namun tak awet, jebol bahkan jauh sebelum pos Condang Amis (ini kena tipu lu bro sepatu KW ituu beli aja merk lokal yang udah teruji bro hahaha)

Habib - Ono - Ocha - Oki - Eka - Rio - Raysa - Anita

Habib – Ono – Ocha – Oki – Eka – Rio – Raysa – Anita

Perjalanan jalur petapa (baca: Linggarjati) dengan tujuan summit Ciremai, adalah tanah tertinggi di Jawa Barat. Dimulai pada tanggal 14 November 2014, jam 19.30 WIB naik bus Setia Negara tarifnya Rp 60.000, sampai bibir depan terminal Kp Rambutan jam 21.00 WIB baru mulai lanjut jalan. Singkat cerita keesokan harinya tanggal 15 November 2014 jam 04.00 di pertigaan Linggarjati, ngangkot per kepala kena Rp 10.000,  tepat jam 05.00 kita sampai di pos Linggarjati (600 mdpl) tiket masuknya naik, dan lagi itu pos bentuknya baru. Tiketnya Rp 20.000 per-orang. Usai sholat Subuh, kita berdoa bersama agar diberikan kesehatan dan keselamatan di jalur tengkorak ini. Setelah final checked logistik, dan memastikan nasi uduk yang baru aja kita beli gak lupa kebawa, dengan penuh keberanian kita injak jalur awal dengan riang. Konturnya agak miring dengan karakter Aspal halus, terbentang begitu hingga pos Cibunar (860 mdpl). Sesampainya di sana menyempatkan kaki untuk berleyeh-leyeh sejenak sekaligus memanjakan perut dengan nasi uduk special pake telor ceplok, sedap banget pokoknya, nikmat luar biasa. Stasiun pengisian air terkhir adalah di sini, karena itu kita isi semua botol dan jerigen tanpa celah sedikitpun buat udara dalam kemasannnya. Karena kita total berdelapan, jadi total air persediaan adalah 32 botol aqua 1.5L ditambah 2 jerigen ukuran 5L dan jerigen kecil ukuran 3L ( beratnya belok kerasa nih, nanti di seruni baru berasa 😦 )

Cibunar, opening trail

Cibunar, opening trail

Into the wild - menuju condang amis

Into the wild – menuju condang amis

Dengkul standar belum ada modifikasi (modifikasi koyo dan minyak tawon, belum), melenggang apik, melangkah ke atas bukan kesamping ya nanti masuk jurang, menembus Cibunar. Disuguhi pemandangan pohonan seperti pohon pinus berjejer rapi, dengan daun berguguran, trek pembukaan. Begitu terus hingga pintu masuk hutan, dengan ciri khas tumbuhan yang makin rapat, sebuah pertanda kita hampir tiba di Condang Amis. Berlabuh di Pos Condang Amis, menyempatkan diri berfoto tanpa Rio dan Ocha, mereka lebih dahulu menerobos jalur.

Condang Amis

Condang Amis

Sebelum menyusul mereka kami istirahat sejenak sambil bertegur sapa dengan kelompok pendaki lain. Setelah puas, dan bekal stamina yang masih sangat prima, kami bergegas menyusul Rio dan Ocha.

Shelter

Suasana syahdu di shelter sakti anti bocor

Di tengah perjalanan awan mendung memang sudah mengikuti sejak tadi, kali ini mereka mulai bertransformasi menjadi bulir air, hujan rintik-rintik. Memang adalah sebuah kode akan tiba hujan besar, kami meneruskan sedikit berjalan, ketika hampir saja sampai ke pos berikutnya, Kuburan Kuda, hujan dengan tanpa ampun turun dengan derasnya. Kami berlindung dibawah Flysheet sambil menyalakan kompor kemudian memasak. Ono dan Habib menyusul Rio dan Ocha yang berada di depan, memanggil mereka untuk ikut serta berteduh di bawah shelter. Menu siang ini adalah mie goreng kremes, kopi, nasi dan mie goreng matang lengkap dengan telur orak-arik, alhamdulillah kenyang. 2 jam kemudian (13.30), seusai sholat dan repacking, segera kami meneruskan perjalanan.

Illustrasi Kuburan Kuda #cryinglaugh

Illustrasi Kuburan Kuda, yang depan nahan kentut eh kepleset kaki, alhasil yang di belakang hampir mati suri mendadak, beruntung hanya sebagian kecil dosis yang dihirupnya

Sampai di Kuburan Kuda sekitar pukul 14.45, mulai dari sini trek mulai menukik terus hingga summit. Hujan deras membuat kontur tanah menjadi licin, Raysa dan Oki berkali-kali terpeleset menaklukan tanjakan awal Kuburan Kuda. Beberapa kali beristirahat, akhirnya kami melihat sekelebatan tanda-tanda Pos Pengalap. Sudah ada satu tenda yang berdiri di sana. Jam tangan menunjukkan pukul 15.40. Ngistirahatin dengkul dan menurunkan detak jantung di sana, sejenak duduk sambil nyempetin nyemil mie kremes. Persiapan raga dan mental selesai, siap nyisir Tanjakan Seruni dan Bapa Tere di depan. Tempat dimana dengkul dan jidat ditakdirkan menjalin cinta.

Trek Pengalap gak setajam Kuburan Kuda, karakternya santai dan anggun, tibalah kami sekitar jam 17.15 di gerbang Tanjakan Seruni. Sebelum menggempur Tanjakan ini air teh panas diseduh, disimpan sebagian, dan lainnya ditenggak habis. Headlamp sudah terikat dikepala, plat besi berwarna kuning bertuliskan Tanjakan Seruni mulai memudar berbarengan dengan hilangnya cahaya langit.

Flat trail never made a skilled hiker - SERUNI

Flat trail never made a skilled hiker – SERUNI

Seruni, melangkah kami dalam gelap, sumber cahaya kami bukan hanya dari headlamp tapi juga cinta dari dalam hati (#tsah). Trek begitu licin dan curam, ujian demi ujian diberikan dalam satu chapter seruni yang seperti tak berujung. Carrier dipundak seperti bongkahan tambahan yang mulai menggangu, menghardik dengan kasar dalam hati mengenai beratnya beban, tapi tak sampai dimulut. Sangat berbahaya jika keluhan ditransalasi dengan gelombang suara, dapat menyebarkan keruntuhan mental bagi teman disekitar. Tertawa dan tersenyum lah kawan! Terus menanjak tanpa henti, hingga di suatu titik kami berhenti. Pukul 21.30 rintik hujan turun kembali, kami segera menggelar flysheet. Tiga diantara kami, Gw, Rio, dan Habib segera ke atas lebih dahulu mencari lapak untuk menggelar tenda. Menemukan suatu tempat lapang namun agak miring sedikit. Gangguan serangga-serangga yang dapat menggigit seperti lebah dan semut datang memperkeruh kegiatan buka tenda. Hampir selesai tinggal outer layer yang belum melekat sempurna, hujan dengan derasnya mengguyur. Dinginnya sangat menyiksa, kami bertiga tidak boleh kelaparan, menurut beberapa informasi hipotermia akan terjadi saat tubuh kita kehilangan panas tubuh dengan cepat karena beberapa sebab salah satunya perut kosong. Meringkuk bertiga dan menahan mata untuk tidak tidur. “Bro, kita yang sudah menunaikan sholat aja begini ya, gimana enggak” Rio berucap karena banyak mengalami cobaan dalam jalur petapa. Dalam hati: klo gak sholat mungkin kita ketemu macan yang lapar, bukan sekedar serangga kecil. Kami mengkhawatirkan keadaan teman-teman yang di bawah, mereka pasti kedinginan di bawah flysheet. “Mudah-mudahan semua baik-baik saja, berdoa dalam hati yuk”. Merasakannya secara langsung adalah hal yang sama sekali berbeda dengan mendengar atau mengetahui, diakhir hujan kami mendapati kabar baik, semua tidak apa-apa, tidak ada hal-hal mengerikan seperti hipotermia yang menyerang teman-teman. Alhamdulillah. Singkat cerita kami tidur tanpa merencanakan esok pagi mengejar summit pukul berapa.

Sarapan Sehat - MSG MAKSIMAL

Sarapan Sehat – MSG MAKSIMAL

Tak lama berjalan, tersenyum selagi sempat. BAPA TERE

Tak lama berjalan, tersenyum selagi sempat. BAPA TERE

Perjalanan dilanjutkan kira-kira pukul 09.00 pagi, tentu setelah selesai sarapan. Badan terasa sangat ringan tanpa carrier, menyenangkan sekali. Karena tak yakin apakah kami sudah melewati Bapa Tere atau belum, maka gw bisikkin Rio yang paling depan untuk mencabut atau menutupi plang itu jika menemukannya. Misi mengelabui teman-teman gagal total karena tak lama kemudian semua melihat plat kuning Bapa Tere tersebut. “Selamat merayap #sambilsenyum” bisik angin yang diterjemahkan oleh gesek daun pohon perdu. Dulu waktu lewat sini tak ada tali-temali, sekarang lebih manusiawi, ada tali yang membantu kami untuk merambahi treknya.

Crawl like a spider, roar like a lion, do not cry like a baby. The wall of bapa tere.

Crawl like a spider, roar like a lion, do not cry like a baby. The wall of bapa tere.

Setibanya di Sangga Buana, hujan deraaas lagi-lagi mengguyur. Menggeragas mental tentu saja. Mental dengan kelembutan tingkat tahu-tempe pasti sudah terpotong-potong dengan kejam. Setelah reda, langsung babat habis Batu Lingga 1 dan Batu Lingga 2.

Setibanya di Batu Lingga 2 seorang kawan kami yang bertubuh gempal tiba-tiba meneteskan hujan dari kelopak mata juga hidungnya. Kami menyemangati, tapi tak mempan. Meminta semangat dari beberapa pendaki juga tak di dengar. Hingga kami bertemu pendaki wanita bermulut racun, membuat teman kami semakin tercabik jiwa nya dan memutuskan untuk ikut turun bersama mereka. Tentu saja kami ber-3 ikut turun saat itu menjaga teman kami yang sedih. Berjaga jika saja mereka meninggalkan kawan kami begitu saja di tengah perjalanan turun. Tak sempat izin dengan 3 kawan yang sudah lebih dahulu sampai di pengasinan, dengan pisah jarak kami hanya 1 tanjakan. Semoga pesan telepati sampai ke kalian ya kawan yang sudah tiba di pengasinan, kami izin turun ke tenda lebih dahulu. Drama, Drama, Drama everywhere.

200mdpl left to the summit. PENGASINAN

200mdpl left to the summit.
PENGASINAN

Sampai di tenda sekitar jam 16.00, ngemil-ngemil sedikit sambil beristirahat. Sela dua jam kemudian, Cepol, Ocha, dan Rio sampai di tenda. Memasak, lalu bersiap-siap untuk turun. Repacking selesai sekitar jam 20.30, berdoa kemudian beranjak turun. Pemandangan city night view menemani kami, begitu juga sesosok anak kecil berkulit pucat yang merangkak. Singkat cerita kami sampai di Cibunar jam 02.30.

Bergegas mengejar kereta, kami segera beranjak carter mobil Rp. 200.000 untuk sampai di Stasiun Cirebon. Kami sampai tepat 15 menit sebelum kereta berangkat, rupanya kereta Eksekutif, lumpur kering menempel di segala bagian tubuh, penumpang lain melihat kami dengan pandangan yang “iyuh” cuek aja deh :D. Kereta kami hanya sampai karawang karena kehabisan tiket Jakarta. Lanjut dari karawang menaiki bus, Rp. 12.000. Sampai Kp. Rambutan sekitar jam 12.30. Walau tak sampai summit, tidak apa karena kami semua selamat dan sehat. Alhamdulillah.

HAPPY WEDDING BANG DIMS dan KAK AIDA. (khilaf enggak kefoto waktu di pengasinan)

HAPPY WEDDING BANG DIMS dan KAK AIDA. (khilaf enggak kefoto waktu di pengasinan)

 

Gunung tak kan lari, yang berlari adalah waktu.

Gunung mungkin berubah, begitupun catatan perjalanannya.

Gunung bisa saja bertambah dengan erupsi lava, seperti bertambahnya pengalaman dan bahan cerita untuk inspirasi anak dan cucu kelak.

Indonesia sangat indah untuk ditinggal tidur dikala akhir pekan, berpetualang lagi yuk 🙂

 

Perjalanan yang menyenangkan.

Memori ini bakalan jadi bahan baku ngeluarin Patronus saat Dementor menyerang. 😀

Catatan perjalanan salak.

Gn Salak

Salaka, perak, puncak 1 (2221 Mdpl), pendaki hilang, kecelakaan super airjet Sukhoi, menghiasi gelar Gn Salak. Rasa penasaran mengisi wadah dalam hati, kemudian menjelma menjadi komunikasi mengenai rencana pendakian diatara empat manusia. Empat manusia itu bisa juga disebut Eka, Rio, Imam, dan Okky. Diantara kami berempat belum pernah ada yang mendaki ke sana, pengetahuan tentang kondisi Salak banyak kami dapati dari blog dan OANC kaskus. Tanggal keberangkatan yang ditunggu-tunggu tiba, 28 November 2013, kami berencana berangkat ke arah Cicurug kemudan melewati jalur Cidahu (Javana Spa) untuk menuju puncak salak 1. Seperti biasa kami seharusnya menuju Terminal Lb. Bulus untuk menuju Cicurug, tetapi kami beruntung mendapatkan “tumpangan” mobil yang mengantarkan kami hingga Cidahu, musibah menerpa di tengah perjalanan yaitu kami mengalami kerusakan kanvas kopling di ujung tol Ciawi tepatnya jam 00.30. Kondisi ini membuat kami menginap di bengkel hingga pagi hari, alhamdulillah reparasi selesai tepat am 05.00 kemudian kami berangkat menuju Cidahu.

Bengkel Kalong

Bengkel Kalong

Narsis dihalalkan, soalnya klo ilang ini narsis terakhir.

Narsis dihalalkan, soalnya klo ilang ini narsis terakhir.

Sampai di Cidahu 29 November 2013 pukul 08.00, kami mengurus izin mendaki di Pos, foto-foto evakuasi pendaki tewas hingga kecelakaan Sukhoi menyambut kami. Setelah itu kami segera meneruskan perjalanan menuju Pos Pendakian Kawah Ratu dan Puncak Salak 1 melewati jalanan aspal yang cukup panjang, beruntung kami di dalam mobil sehingga tidak merasakan efek lelah yang pasti terjadi kalau jalan kaki. Setelah meng-unload carrier bawaan kami berpamitan sama empunya mobil yang tidak lain adalah Bokap gw, kemudian berfoto-foto sejenak lalu berdoa sebelum pendakian dimulai.

Cuaca cerah sekali alhamdulillah, pukul 08.30 kami mulai mendaki jalur Pos Pendakian HM 0 – Pertigaan Bajuri HM 24, trek yang dilalui memiliki karakter naik turun dengan sedikit bonus atau flat surface. Selain itu menyebrangi antara 3 atau 4 kali sungai kecil selama perjalanan ke Bajuri. Perjalanan sampai bajuri memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan. Kami bertiga beristirahat sejenak di Bajuri sambil menyiapkan makan siang. Kemudian setelah memastikan jerigen 5L dan 2L serta 7 botol aqua 1.5L sudah terisi penuh. Bukan tanpa alasan, tempat ini merupakan sumber air terakhir, sumber air berada di sungai yang jaraknya hanya beberapa meter dari Bajuri di jalur menuju Kawah Ratu.

Siapa bilang dengkul sama jidat enggk jodoh? ga percaya coba disini.

Siapa bilang dengkul sama jidat enggk jodoh? ga percaya coba disini.

12.30 kami melanjukan perjalanan menuju Puncak 1, dari sini patok HM berawal dari 0 lagi. Bajuri HM 0 – Puncak Salak 1 HM 46. Trek yang dilalui yaitu merupakan perpaduan antara akar-akar pohon, tanah lembab, kubangan lumpur, dengan keterjalan yang menyambut tepat setelah trek ‘bonus’ yang sangat langka.

Lumayan curam

Lumayan curam

Biar kata dengkul racing jg bisa overheat

Biar kata dengkul racing jg bisa overheat

Mulai terasa berat saat HM 30, faktor utamanya bukan karena kondisi trek. Carrier yang sepertinya overload logistik melemahkan fisik sedangkan rupa trek dan matahari yang mulai tenggelam ditambah kabut tebal yang mulai turun sedikit banyak memeras mental. Patok HM demi HM merupakan kewajiban dilalui dengan keteguhan hati. Hari mulai gelap, kami memutuskan nge-camp di HM 33.

18.30 kami masih memasak untuk makan malam, 19.00 makanan tersaji dan kami mengundang rombongan pendaki dari Bogor yang saat itu kebetulan lewat untuk bersama-sama makan malam. Setelah usai makan malam rombongan pendaki dari Bogor melanjutkan perjalanan menuju puncak 1 setelah mengucapkan salam lestari. Kami kemudian bergurau sembari menghabiskan kudapan yang kami bawa di depan tenda. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan menuju Puncak 1 esok pagi, tetapi kami memutuskan untuk kembali turun esok pagi. Dan berencana menyentuh Puncak Salak 1 pada kesempatan yang berikutnya.

Sarapan pagi, isi tenaga buat turun.

Sarapan pagi, isi tenaga buat turun.

Pemandangan dari HM 31

Pemandangan dari HM 31

09.00 setelah sarapan kami turun menuju Pos Pendakian. Camp HM 33 – Bajuri HM 0 ditempuh dalam waktu 3 jam. Bajuri HM 24 – Pos satu HM 0 ditempuh dalam waktu 1.5 jam. Setelah lapor kepulangan kami di Pos kami naik angkot putih Cidahu – Cicurug dengan biaya Rp 15.000 per orang, kemudian dari Cicurug – Stasiun Kereta Bogor kami naik angkot hijau dengan biaya Rp 10.000 per orang. Di Stasiun Bogor kami berpisah, ada yang ke Stasiun Bekasi dan Ke Stasiun Sudirman. Selama menunggu kereta kami memandang ke arah barat daya “sampai jumpa lagi Salak”.

Gunug salak terlihat gagah dari Stasiun Bogor

Gunug salak terlihat gagah dari Stasiun Bogor

Catatan perjalanan 12 pendaki, Papandayan.

page

Hello my wordpress udah lama enggak nulis disini.

Perkenalkan kami adalah Eka Primasatya (gw sendiri), Imam Bayadho (ibay), Achmad Jama’ah (Rama), Fadli Rachman (Fadol),  Muhammad Habib (Habib), Imam Rosadi (Ocha), Rio Aditya (Rio), Mukti Ageng (Age), Raysa FItria (Raysa), Okky Pramudyawardhani (Oki), Widhi Wijayanti (Widi), dan Adita Doena (Adit), kami adalah pendaki newbie yang bercita-cita menaklukan puncak Semeru, Kerinci, dan Rinjani nantinya J, sepertinya sedikit kurang tepat dan berkesan angkuh kalau menaklukan gunungnya, gw pribadi lebih suka memandangnya dari sisi conquered ourselves dan kekompakan tim. Sebelumnya sebagian dari kami pernah melakukan pendakian, tetapi ini adalah pendakian bersama perdana kami, tujuanya adalah Puncak Gunung Papandayan (2665 mdpl). Karena berbagi itu indah, berikut kisahnya

Setelah diskusi panjang dan perencanaan yang insyaallah matang, akhrinya tiba juga hari H, yaitu 2 September 2013 yang merupakan waktu yang sudah kami putuskan untuk keberangkatan pendakian Gunung Papandayan. Rencana kami berangkat adalah ba’da Ashar agar sampai Camp David jam 11 malam, walaupun begitu Jam 08.00 kami (belum semua tapi sebagian besar) sudah datang dan berkumpul di kampus tercinta, pagi ini kami yang belum sarapan bersama-sama jajan di warung Awa depan kampus, seperti biasa sembari makan kawan kami si Age yang bermata liar mulai melontarkan komentar-komentar ala playboy cap cangkul tentang maba 2013 yang saat itu sedang banyak berlalulalang di depan kampus. Fadol balik ngecengin tentang status poligami Age yang waktu itu udah punya 2 cewe. Raysa yang jomblo pura-pura whatsappan padahal lagi main game linebubble, si Oki lagi kebingungan karena dia galau mau berangkat ke BPPT Serpong ketemu pembimbing skripsi,  sedangkan gw yang paling kalem diem aja sambil nyeruput milo hangat. Enggak lama kemudian dateng si Rio yang kemudian menitipkan barang bawaannya ke Age dan langsung menghilang lagi buat jemput Widhi. Oki akhirnya memutuskan buat pergi ke BPPT serpong naik kereta.

Setelah  sarapan selesai  kami kemudian kembali ke basecamp (lab kimia) untuk repacking barang-barang bawaan. Beberapa dari kami yang sudah datang segera mengelompokkan dan merecheck barang logistic khususnya keperluan kelompok  yang dua hari sebelumnya sudah di drop di kampus. Perlengkapan ini kami rencanakan untuk kegiatan pendakian selama 3 hari, bahan-bahan makanan seperti mie goreng 25 bungkus, bumbu nasi goreng 5 bungkus, margarin 2 bungkus, bubur super 12 bungkus, gula 1 kg, kopi 30 bungkus, beras 2 kg, saos sambal 1 botol, kornet 1 kaleng, kecap manis 1 botol, pop corn 3 bungkus, topping coklat 1 botol, telur ayam rebus 10 butir, sarden 1 kaleng, teh celup 1 kotak, susu kental manis 1 kaleng, bumbu dapur 1 set, nugget 1 bungkus, dan kismis 1 lusin semuanya statusnya tercentrang dengan baik seperti yang direncanakan hanya saja kurang bakso 1 bungkus yang lupa terbawa. Kemudian pengecekan logistic kelengkapan peralatan yaitu nesting 1 set, panci 1 buah, kompor 2 set, jerigen 2 buah, oxican 4 botol, hicook 5 botol, polybag 1 bungkus, tisu kering 1 bungkus, paraffin 1 kotak, tenda 3 pasang, spons 1 bungkus, flysheet 1 lembar, lentera 1 buah, centong 1 buah, gunting 1 buah, dan piso dapur 1 buah semuanya oke. Semua barang bawaan tersebar kedalam carrier yang bercampur dengan barang bawaan personal.

Gemblongan

Gemblongan

Jam menunjukkan pukul 11.00, Alhamdulillah semua barang bawaan sudah terbungkus rapi di dalam carrier. Tetapi kami menyadari sesuatu, terdapat tenda berbentuk lingkaran yang aneh, karena belum pernah melihat tenda seperti itu sebelumnya kami tidak ingin terjadi masalah teknis di lapangan nanti, jadi kami mencoba mendirikannya dan ternyata mudah sekali karena langsung berdiri dengan rapi. Permasalahan terjadi karena kebingungan bagaimana melipatnya seperti semula, tidak ada buku manualnya bro, tak apa om gugel yang panjang umur bisa menjawab banyak hal daaan alhamduliah terima kasih kepada pengunggah video di YouTube karenanya kami berhasil melipat tenda tersebut. Kami kemudian bergegas menuju kantin basement 1 untuk makan siang. Disadari atau tidak makan siang ini adalah makanan terakhir yang paling bergizi yang kami dapati. Tidak lama kemudian kami menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur.

Jam 13.30 teng, berduabelas sudah lengkap berkumpul termasuk Oki yang baru saja sampai kampus. Kemudian kami berpamitan dengan teman-teman yang kebetulan lagi ada di lab, lalu segera melangkah pergi menuju halte bus. Tadinya kami berencana naik metromini 72 di Blok M, tetapi sepertinya terlalu merepotkan, jadi kami mengikuti saran dari Adita, Raysa, dan Widhi yaitu naik APTB arah lebak bulus. Tiket APTP rupanya mahal juga, yaitu Rp 8000 per orang, gw yang terbiasa naik motor duit segitu bisa dapet bensin yang cukup buat pulang-pergi Pamulang. Di APTB nyaman juga, ada AC nya bro. Perjalanan APTB  kampus sampai Lb Bulus memakan waktu kurang lebih 1 jam. Jadi, kita sampai sekitar jam 14.30 di terminal tersebut. Berhubung rencana kita berangkat ba’da Ashar, jadi nongkrong dulu di deket masjid. Terbayang perjalanan jauh yang bakal dilewatin nanti, gw, Oki, Habib, sama Fadol makan dulu di warteg sebelah. Teman- teman lain ternyata masih kenyang jadi enggak ikutan makan. Makan warteg sembari ngobrol-ngobrol tentang pendakian yang telah dilakukan si Oki di gn Cikurai, doi cerita klo ternyata nanjak Cikurai kemarin lewatin jalur illegal (buka jalur) udah gitu enggk daftar dulu di pos. Gile nih orang untung aja kagak ilang di hutan. Cikurai juga enggak ada sumber air, jadi Oki dan tim pendaki nggendong aqua 1.5 L masing-masing orang bawa kurang lebih 10 botol , gokil berat bener bro. Akibat enggak daftar di pos itu pas di puncak dicariin sama polisi hutan. Walaupun begitu kisah Oki happy ending mereka semua selamat alhamdulillah.

Bedug dan adzan pertanda udah masuk waktu asar, kita segera wudhu dan solat asar berjamaah di masjid Lebak Bulus. Gw pribadi berdoa kepada Allah SWT agar kita semua diberikan keselamatan, diberikan ketenangan dalam kesulitan, diberikan kesehatan serta kekuatan fisik dan mental yang cukup untuk pendakian. Amin.  Setelah berdoa dan bersiap-siap kita segera menuju Bus Primajasa ekonomi ac, untuk jurusan Lb Bulus – garut tiketnya Rp 42.000 per orang. Di dalem bis si Age udah siap sama gorengannya sebelahan sama si Ocha yang enggak kalah persiapan kudapan sebanyak 2 bungkus. Gw sama Rama cuma modal aqua sama permen. Si Rio duduk sebelah Widhi dengan persiapan kudapan yang juga cukup matang. Raysa berdua sama Adita yang kebetulan dua-duanya jomblo sepertinya punya persediaan kudapan yang cukup juga karena duduk dibelakang jadi enggk keliatan. Oki, Habib, Fadol, dan Ibay duduknya berpindah-pindah di paling belakang deket smoking area. Bus jalan jam 16.30, diperjalanan ada yang minum antimo, ada yang makan biscuit, ada yang ngobrol, ada yang tidur, dan ada yang jomblo juga (eh disebut lagi ya, sori ya Ray).

Sampai Terminal Guntur (Garut) jam 22.30. Setelah turun dan ambil barang di bagasi, Ibay segera menelpon Mang Sasa sebagai supir pick up jemputan untuk menanyakan di mana posisi beliau. Ternyata Mang Sasa udah sampai, Mang Sasa memberikan petunjuk di mana dia berada yaitu di bawah tower merah di sebelah barat terminal garut. Teka-teki yang menarik ini kami coba pecahkan dengan mencari tower dan mudah sekali terlihat, setelah yakin arah tower tersebut, lalu kami mencoba mencari jalan ke sana. Di tengah jalan kami selalu saja ditanya “mau kemana” sama supir angkot maupun elf. Dalam hati gw kepingin jawab “ke Surga bro, mau ikut enggak?” tapi enggak sih, kami milih diem karena kalimat tanya sang supir yang disampaikan itu sambil teriak-teriak ngomel dan terkesan memaksa. Ketika hampir sampai di tower ditambah hiruk pikuk pertanyaan annoying kita bingung di mana Mang Sasa berada, oleh karena itu kami putuskan berhenti di dekat lapak tukang sayur. Benar saja beberapa menit kemudian datanglah Mang Sasa, berpakaian jaket berwarna biru telur asin dengan kapucon yang dikenakan, lalu beliu berbisik di belakang kita menunjukkan di mana posisi mobilnya di parkir, rada kaget gw sebenernya dan dalam benak gw: ini kemunculan Mang Sasa semacam Bandar Judi yang mau transaksi Ganja aja, misterius bro.

Ngompreng

Ngompreng

Oke saatnya ngompreng di atas pick up malem-malem sambil nahan kencing karena dinginnya udara, sedaap.  Pick up Mang Sasa melaju begitu cepat melibas tanjakan berkelok-kelok menuju Gerbang Cisurupan Kaki Gunung Papandayan. Sampai di gerbang tersebut sekitar 1 jam perjalanan. Perjalanan lancar dikondisi arus lalu lintas yang sepi. Setelah tiba di gerbang Cisurupan,tujuan selanjutnya adalah Camp David. Dari gerbang Cisurupan kondisi jalan mulai memburuk, banyak lubang di mana-mana. Seakan tak peduli keberadaan lubang, pick up terus melaju menembus jalan dengan perlahan, berguncang di atas pick up dan kami lihat hampir saja Oki melambung melayang kemudian terjatuh berulang kali, pengalaman yang menyenangkan. Kemudian saat mencapai ketinggian 1900 mdpl (sebelum camp david) kami melihat pemandangan di belakang kami, kota garut dengan sinar lampu yang lembut tertutup kabut, dan juga yang paling menarik adalah nuansa kegagahan dan keheningan bayangan siluet gunung Cikurai yang terlihat hitam dan berkabut tipis, wow sekali pokoknya. Di tengah kedinginan yang menusuk tulang selama perjalanan, akhirnya Camp David mulai terlihat, alhamdulillah sampai sudah kami di sini, kemudian dengan segera kami mengemasi barang kemudian turun dan segera melapor ke pos.

Camp David

Camp David

Camp David merupakan pemberhentian pertama, di lokasi ini terdapat pos inap yang kebetulan kosong jadi kami tidak perlu membangun tenda. Kami secara bergantian sholat magrib-isya jamak takhir di qasar, sebagian dari kami memasak mie dan menyeduh teh, kopi bukan pilihan karena harus tidur malam ini. Setelah acara makan malam selesai kami segera pergi tidur dengan posisi menggulung diri dalam SB, dingin bro. Terlelap membuat kami semua bermimpi sedang membasuh muka di kawah dengan air belerang hangat sambil makan roti bakar yang kami beli dari seorang pedagang roti keliling yang kebetulan lewat kawah seharga Rp 12.500, roti habis kami lahap, tapi kami baru sadar kalau tidak ada sisa uang dalam dompet, pedagang tersebut murka, saking murkanya sang pedagang melempar semua rotinya ke dalam kawah, lalu letusan gunung terjadi, korban satu-satunya dari letusan itu hanya si si pedagang yang mati tersembur roti isi batu panas, tidak rasional ya, namanya juga mimpi.

Pagi sekali jam 04.30 kami bangun, gw, Ibay, dan Ocha mencoba membangunkan teman-teman yang masih mimpi makan roti bakar. Asholatukhoiruminnanaum bro, merekapun bangun. Ibadah solat subuh dijalankan secara bergantian secara berjamaah, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memasak. Gw kebetulan udah selesai sholat lalu mencoba membantu dengan mengambil tanggung jawab memasak nasi, hasilnya: kegagalan yang luar biasa hahaha. Beras yang begitu keras ternyata masih keras seperti batu kerikil yang tajam. Pengalaman memasak nasi skala sedang selama gw penelitian di pulau terpencil dengan panci dan kompor berbahan bakar kayu rupanya bukan jaminan. Melihat kegagalan tersebut Adita membantu, kemudian Widhi turun tangan. Alhamdulillah beras tersebut mau berubah menjadi nasi yang nyaman di mulut.  Setelah menikmati nasi setengah matang, ngopi-ngopi dan beberes barang kami berkumpul kemudian Ibay menjelaskan trek secara umum lalu dilanjutkan dengan berdoa kepada Allah, tepat pukul 07.40 diteriakanlah biotekisme sebagai simbol semangat dan persatuan, kemudian kami bergegas melangkah menuju kawah.

Trek awal

Trek awal

Kondisi awal trek berbatu dengan kecuraman yang sedang berpemandangan asap kawah yang indah. Dilanjutkan dengan pijakan jalan yang masih tetap berbatu dan sedikit terjal dengan tambahan aroma belerang. Adita yang baru kali pertama mendaki, kelelahan, daypacknya kemudian dibawa oleh ocha, teman-teman menyemangati Adita. Adita mentalnya sekeras besi kemudian terus melaju melibas tanjakan berbatu. Keren bro lanjuuut.

Setelah melewati kawah kami melihat pemandangan unik di lembah, yaitu jejeran batu-batu yang disusun menjadi berbagai huruf yang mendeklarasikan nama grup ataupun pernyataan cinta terhadap seseorang. Ketertarikan membuat karya serupa langsung hilang mengingat carrier yang masih dengan mesra menempel di pundak. Ibay kemudian memberi petunjuk jalan yang dilewati, “nanti ambil yang bawah kanan bro” teriak ibay. Trek tersebut profilnya menurun, di ujung trek terlihat sungai, Ibay memberi informasi air tersebut aman, tanpa banyak bicara lagi kami minum secukupnya, dahaga terobati segar sekali :). Setelah dirasa cukup nongkrong di sungai, kami lanjut mendaki. Mulai setelah sungai trek terus menukik awalnya tidak begitu tajam hingga trek setajam silet yang cukup membuat dengkul mengambil napas setiap beberapa langkah. Beberapa dari kami khususnya yang gendong carrier teriak-teriak biar semangat “aaarrgghhhh..!! hooooii..!! huaaaah..!!” terjal bro. Dengkul di gas pol, telapak kaki di ayun, jidat dijaga biar tetep diatas. Nanjak terus sampai di sebuah belokan ke kiri tempat kami beristirahat. Merebah si fadol, jantungnya katanya berdegup kencang. Age berkomentar pegel pundak karena tali carrier putus yang sebelah kanan. Ibay sang juru kunci keep cool entah untuk menarik perhatian seseorang atau emang doi beneran selow :). Habib enggak ada keluhan, staminanya bagaikan unta padang pasir. Adita, Widhi, Raysa, dan Oki rebahan mereka sedikit bicara karena sedang meneguk air. Ocha yang selama perjalanan terus menggengam tangan Adita ikutan duduk. Rama yang sering diomelin Ibay merebah dibelakang. Rio, yang memilih spot rebahan agak jauhan dikit dari teman-teman lain, carriernya yang paling berat jadi bantal.

Rebahan

Rebahan

Setelah puas duduk kami melanjutkan perjalanan, dari situ belok ke kiri menuju tanjakan 45 – 70 derajat. Sudah dekat sama Pondok Saladah tujuan kita buat nge-camp. Kebetulan gw jalan paling depan dan Ibay dibelakang gw. Pas di persimpangan Ibay menunjuk arah kanan, kemudian Ibay jalan duluan, gw nunggu di persimpangan buat nunjukin jalan buat yang teman-teman yang masih dibelakang. Sambil ngitung temen-temen yang lewat, dengan hitungan baru 11 orang termasuk Habib yang saat itu terakhir muncul. Artinya si Rio yang belum muncul, sempet-sempetin foto sembari nungguin si empunya kamera yang tak kunjung datang. Asumsi kita mungkin si Rio kecapean lagi istirahat. Tapi dirasa terlalu lama, kebetulan gw yang udah duduk lama punya banyak cadangan tenaga sehingga gw menghibahkan diri buat turun nyusul Rio. Gw menyusuri jalan turun tapi enggak ketemu Rio, bahkan saat gw sampai di lapangan tadi tempat rame-rame istirahat Rio enggak keliatan keberadaannya. Firasat gw bilang klo Rio ngambil jalur lurus ke arah barat, yang artinya Rio keliru ambil jalan. Gw memutuskan enggak balik lagi manggil teman-teman soalnya terlalu lama buat kembali ke persimpangan Pondok Saladah. Kemudian gw berdoa semoga dikasih kekuatan fisik dan mental buat ngejar Rio. Gw berlari agak cepat sembari manggil Rio menyusuri jalanan lurus nan sepi dengan profil menurun dugaan terkuat yang gw punya adalah Rio pasti lewat jalan ini. Benar saja di tengah jalan gw ketemu sama 3 nenek-nenek, setelah bertanya apakah mereka melihat sosok ghoib berkepala plontos menggendong carrier dan bercelana panjang motif tentara, ternyata mereka melihatnya dan menunjukkan bahwa sosok tersebut sudah berada jauh di depan sana, katanya mereka melihatnya sekitar 1 jam yang lalu. Setelah mengucapkan terima kasih gw menambah kecepatan lari, kecepatan buat menemukan Rio penting soalnya gw takut nanti di depan kalau ada persimpangan dan Rio ngambil salah satu dari persimpangan itu makin memakan waktu nyarinya. 10 menitan berlari gw ketemu sama 3 orang bapak-bapak, dan bertanya kembali tentang sosok berkepala botak tersebut. Mereka bilang melihatnya sekitar 15 menit yang lalu. Alhamdulilah sudah dekat, berlari mulai menghabisi stamina, jadi gw memutuskan jalan cepat dan tidak lama kemudian bertemu dengan Rio, alhamdulilah. Setelah bertukar beban carrier, kami pun balik arah ke arah lapangan, menelusuri trek yang menanjak.

Sesampainya di lapangan kami bertemu 3 nenek-nenek tadi, kemudian kami melempar senyum dan lambaian tangan tanda terima kasih. Melanjutkan perjalanan kami berdua di tanjakan kami bertemu Habib, Ocha, dan Rama. Ocha segera menggantikan gw membawa carrier Rio. Kami pun bergegas menuju Pondok Saladah.

Kami berduabelas lengkap sudah sampai lokasi camp ini pukul 11.20. Kemudian kami bersama-sama mendirikan tenda. Kegiatan selanjutnya adalah makan siang, tim memasak yaitu Widhi, Adita, dan Raysa, menu siang ini adalah nasi goreng kornet plus nugget. Sebagian dari kami ada yang mencari kayu bakar dan ada pula yang mengambil air, serta sebagian lain membantu memasak dan membuat kopi.

Jam 12.00 teng kami menunaikan ibadah sholat dzuhur, kemudian kami segera melahap habis makan siang yang lezat itu. Seusai makan masing-masing dari kami bernegosiasi dengan dengkul, dan memutuskan untuk istirahat sejenak di dalam maupun di luar tenda. Kebetulan turun kabut siang itu, jadi suhu udara menjadi lebih dingin dan secara ajaib menyajikan kondisi tidur siang yang menyenangkan.

Selama hampir 2 jam memejamkan mata, waktu menunjukkan waktu sholat asar sudah tiba. Kami pun segera sholat, kepala kami bersujud hanya kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta Gunung Papandayan dan Segala isi Langit dan Bumi. Setelah sholat, gw, Age, dan Fadol berkeliling untuk mencari tambahan kayu bakar. Selagi mencari kayu bakar kami tiba di suatu bagian hutan tepat di pinggir hamparan bunga edelweiss, yang entah kenapa banyak sekali tissue yang dibuang sembarangan di sana. Bagaimanpun lingkungan tersebut bukan tempat sampah bro, sayang sekali masih terdapat pendaki yang kurang mengerti tentang kebersihan. Seusai mengumpulkan kayu bakar kami kembali ke tenda. Saat kami tiba teman-teman lain seperti biasa sedang melepas kepenatan dengan canda. Waktu menujukkan pukul 17.25, masih satu jam lebih awal untuk masuk waktu makan malam, tetapi rasa lapar sudah melanda, terlihat bahwa suhu dingin membuat sekumpulan makhluk homoiterm seperti kami membakar banyak kalori untuk mempertahankan suhu tubuh. Kami memutuskan untuk mulai memasak, Oki yang masih terlelap segera bangun menghampiri sumber hiruk-pikuk lentingan gesek antara logam panci dengan kompor. Di sebelah selatan, Age mulai menyusun susunan kayu bakar untuk api unggun malam ini, bentuk susunanya sempurna, tetapi agak unik memang dengan penempatan satu batu yang sangat besar di tengah-tengah, itulah Age si kadal cangkul berkloaka yang anti-mainstream, piss bro. Demi nyala api, kami sudah memboyong dua buah tube berisi cairan bunsen yaitu spiritus, ditambah dengan satu kotak parafin berisi delapan keping. Tambahan komposisi yaitu bara hitam yang diangkut Age dan Fadol dituang kedalam api. Sedang asik membuat racikan api unggun waktu menunjukkan pukul 18.00, Ibay kemudian mengumandangkan adzan magrib, walaupun suhu dingin, alhamdulilah niat kuat kami beribadah membuat kami tidak enggan berwudhu sebelum sholat jamak takdim magrib – isya kami laksanakan berjamaah. Seusai sholat dan berdoa, tepat pukul 18.40 bonfire burned.

Bersamaan dengan lahirnya api, makanan pun tersaji, siap untuk disantap lengkap dengan seduhan kopi jahe pemberian pendaki lain yang baik hati saat kami berada di Camp David. Menu makanan di depan kami yaitu nasi, mie goreng dengan sarden di atasnya, serta kuah bakso tanpa bakso, sedaap bro. tim memasak emang paling kece dah masakannya. Dengan mengelilingi api ungun kami makan berjamaah. Setelah puas dan kenyang, seruputan kopi menambah kehangatan tubuh di tengah kabut tebal. Kemudian di sekitar api unggun kami bernyanyi ala disko darurat (baca: karoke darurat) bermodalkan smartphone Habib dan speaker eksternal Fadol, walaupun Fix You yang entah kenapa enggak sampai ke play di reffnya, enggak apa-apa yang penting hepi :). Tak terasa malam semakin larut dengan kabut yang semakin tebal. Empat pria yang telat kebelet kencing (sebelumnya Ocha, Rama, dan Ibay sudah duluan) yaitu gw, Age, Habib, dan Fadol berinisiatif menuju sungai. Sinar headlamp enggak mampu menembus tebalnya kabut, jarak pandang hanya 3 – 4 meter. Jarak sungai yang lumayan dari tenda membuat kami khawatir tersesat, karena itulah kami memutuskan kencing di semak-semak. Saat ingin kembali ke kemah, kami sempat kebingungan arah, gelap betul bro kabutnya, alhamdulillah ketemu juga jalan kembali. Sesampainya di tenda kami lanjut bernyanyi sebentar kemudian masuk kedalam SB dan mencoba untuk tidur. Sulit sekali tidur malam itu, dinginnya menusuk, apalagi teman-teman yang menggunakan “suncream” menggigil sampai ketulang. Walaupun sulit untuk tidur dan merasakan malam yang sangat panjang, singkat cerita akhirnya tertidur juga.

Pagi dini hari, pukul 03.40 saatnya menyeduh “bubur instan super” dan roti isi topping coklat plus kismis, enggak lupa kopi hangat yang nikmat. Menyeruput kopi sambil mengigil hingga waktu subuh tiba, semakin mengigil lagi saat kulit bersentuhan dengan air wudhu, brrr… At Takasur, mengingatkan kita agar tidak sombong, Gunung yang demikian besar nan kokoh yang di mention dalam Al Quran sebagai tonggak penahan Bumi agar tidak goyah, bandingkan dengan ukuran manusia yang sangat kecil. Saking kecilnya mudah sekali untuk dilumatkan, astagfirullahaladziim, ampuni hamba ya Allah tidak pantas ada kesombongan dalam diri hamba.  Allahuakbar sujud kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta, pagi yang syahdu, waktu subuh yang indah. Subhanallah.

Setelah kenyang kami bersiap mendaki sampai puncak, tetapi sayang sekali, hanya kami bersepuluh saja yang pergi. Raysa dan Rama stay di tenda. Waktu menunjukkan pukul 06.30 kami berdoa sebelum berangkat kemudian pergi melangkah. Tujuan pertama adalah Hutan Mati, kondisi trek ke lokasi tersebut becek dan menembus semak-semak, hajaar. Selama perjalanan terdengar Age, Habib, dan Fadol bernyanyi bersemangat. Trek saat tiba di Hutan Mati mulai menukik naik, nyayian-nyayian mulai perlahan berhenti kemudian benar-benar hilang saat kami tiba di trek tanjakan, di mana jidat bertemu dengan dengkul. Naik-naik ke puncak gunung, jidat bertemu dengkul, kiri kanan kulihat saja banyak semak dan jurang, kami berusaha sekuat tenaga agar sampai tujuan, biar lelah tetep hepi :).

95 deg

95 deg

Tidak lama kemudian kami sampai di Tegal Alun, hamparan bunga edelweiss di mana-mana, menurut wikipedia Papandayan merupakan padang edelweiss terluas di Indonesia, subhanallah. Setelah berfoto-foto sedikit kami melanjutkan perjalanan, menembus semak belukar yang masih banyak menyimpan embun pagi, tidak heran kalau jaket kami basah kuyup. Setelah menembus semak, kami mendapati kembali tanjakan jidat dengkul, kecuramannya dibarengi dengan keindahan hamparan bukit dan kawah papandayan, serta siluet gunung Cikurai yang lancip tajam. Beberapa kali kami beristirahat di tengah perjalanan, menghilangkan dahaga, Adita sesekali menghirup tabung oksigen.

Edelweiss

Tegal alun

Menanjak menanjak menanjak, kemudian kami bertemu dengan Puncak Bayangan, pemandangan di sini indah sekali, tulisan ini enggak mampu menuliskannya, pokoknya pengalaman yang harus dirasakan dan dipahami secara langsung. Tidak jauh dari puncak bayangan, kami menemukan Puncak sesungguhnya, 2665 mdpl. Hepi bro, saling menyalami satu sama lain, mengucapkan selamat, menarik nafas dalam, menikmati puncak, terdiam mencicipi udara, merenungi kebesaran Allah. Setelah puas menikmati puncak, kemudian masing-masing dari kami memberikan komentar dalam video rekaman Habib. Setelah berfoto bersama, kami memakan kudapan coklat dan gula merah serta meneguk air, lalu kembali turun menuju tenda dengan tersenyum. Pengalaman yang menyenangkan.the summit 2665 mdpl

Best Regards

Eka Primasatya

Penyebab Rio tersesat.

Hari ini gw kebetulan bareng Age sama Yoga HI 2012 pergi bertamu ke rumah Rio, dari kampus jam 17.00 sampe rumah Rio jam 18.00, pas kita sampe doi belum sampe rumah, Rio masih berenang bareng adek nya Ika di Simprug. Sembari nunggu kita sholat dulu di mushola sekitar situ abis situ makan di seberang rumah Rio. Singkat cerita akhirnya langsung bertamu tuh setelah Rio ngabarin udah sampe rumah. Ngobrol-ngobrol sambil membuat komentar tentang foto-foto yang ada di tampilan layar laptop Rio. Nah ditengah pembicaraan karena penasaran aja, soalnya Rio enggak banyak cerita kenapa dia tersesat kemarin. Kurang lebih begini:

“io sebenernya lu berapa lama istirahat sampe enggak liat kita belok kiri? di situ bahkan kita sempet foto-foto dulu lho” gw memulai pembicaraan.

“Iya io ko bisa sih lu enggak liat kita pada belok kiri pas di lapangan? jarak kita deket banget lho” Age nambahin.

“enggak lama kok, abis lu (Age) jalan persis gw lanjut jalan, nah gw inget kata ibay kalo nanti jalannya ada turunan, pas gw di lapangan gw emang liat jalan kecil sebelah kiri, dalem pikiran gw enggak mungkin ke situ jadi gw lurus tuh dan emang turunan semua sih” jawab Rio setengah-setengah.

” lu ketemu nenek-nenek sama bapak-bapak masing2 tiga orang enggak di jalan?” selidik gw, penasaran aja sebenernya nyata apa enggak itu nenek yang gw temuin pas nyari Rio.

“iya ketemu bang, sebenernya gini bang gw lurus itu karena ngikutin Age” Jawab Rio lagi.

“….. serius lu?, oi ge denger enggak lu rio ngikutin lu lurus pas di lapangan” timpal gw kaget.

“… hah? gw?” Age bingung.

” iya, tapi lu ngilang pas di pertigaan yang satu ke arah jurang yang banyak pipa, satu lagi ke arah jalan kecil, nah gw kebetulan ketemu satu bapak gw nanya arah puncak papandayan dimana, di situlah gw puter arah karena kata bapaknya gw salah jalan” jawab Rio.

Age enggak mungkin lurus karena pada saat itu udah nongkrong duluan di pondok saladah selain itu Rio juga cerita tentang tikus mati di tengah jalan yang enggak lazim ditemui, jalan kecil begitu sepi enggak ada orang sama sekali, yang kalau di film-film tuh ada bangke kaya gitu semacam early warning. Biar bagaimanapun gw dan Age bahkan si Yoga agak speechless denger cerita itu. Rio lebih banyak diem di tenda tentang ketersesatannya itu, mungkin pada saat itu doi juga bingung apa yang sebenarnya terjadi. Alhamdulillah berakhir dengan happy ending.

Arah jalan yang Rio ambil

Arah jalan yang Rio ambil