Menapaktilasi jalur Paguci tertinggi, Cikuray.

Cikuray merupakan satu gundukan bebatuan besar yang julangannya setinggi tumpukan 21 monas. Terletak di Garut, kalau dari terminal guntur sekitar 2 jam naik mobil bak, tapi kemarin itu dengan tambahan 3/4 jam lagi karena sempet ambyar ban belakangnya.
Maklum sob pickup biasanya cuma ngangkut sayuran. Mungkin kaget kali ngangkut orang-orang dengan otot paha sekeras batu kali dengan barang bawaan seberat satu karung gula pasir.

Keambyaran sistem rem pickup menyebabkan tersendatnya perjalanan.

Keambyaran sistem rem pickup menyebabkan tersendatnya perjalanan.

Akan lebih bijak sepertinya jikalau dari awal nih ceritanya. Jumat malam waktu itu 23 Mei 2014, di kantor gw terjadi kehebohan pekerjaan, tingkat kerumitannya setara dengan kubus 12 warna. Malam itu meninggalkan kantor dengan enggan dan merasa bersalah. Berpamitan kemudian cabut.

Motor meluncur cepat berangkat menuju Kp Rambutan, kondisi cuaca – hujan. Info penting yang gw tau adalah bakal bercengkrama kembali  dengan dua penjajal keterjalan Linggarjati, Hendra dan Tugik, ngegerombol lagi bro. Chapter ini bisa juga disebut All hikers are brother  bener aja gak lama ketemu sama Sarah dan Basica di depan masjid, kemudian bang Danang dan Bang Chito serta Reni di Indomart. Jabat tangan sambil gendong carrier, upacara sederhana itu bagai ijab qobul persaudaraan, sah terikat sedarah. Udah malem jadi langsung nemplok di bus Jakarta – Garut (23.00).
Kondisi gw di bus udah mirip zombie, ngantuk parah, kurang tidur tapi gak bisa merem karena belom makan. Popmie dengan harga setara dua kantong nasi uduk menyelamatkan lambung agar ia gak mencerna jaringannya sendiri. Gw tidur sepanjang perjalanan, bercermin dan selfie genjutsu – – iya betul gw adalah pembaca setia Naruto yang komiknya makin kesini makin gak mencerminkan ninja melainkan penuh tenaga dalam sekelas kekuatan super saiyanya Akira Toriyama, lo kenal kaguya musuh barunya itu dewanya chakra kekuatannya setara Voldemort.

Kelelapan tidur gw kala itu membawa tubuh ini ke alam ghoib oro-oro ombo, Ungu dan sangat indah lengkap dengan bidadari dan binatang lucu yang melompat-lompat ceria. Belum sempat meneguk air jernih kumbolo – gedebukan bus karena menginjak lubang membuat hancur koneksi antara alam nyata dengan alam mimpi, putus sambung ganti cerita – saking banyaknya chapter mimpi berefek kurangnya ingatan mengenai alur dan tokoh yang gw alami.

Jam 03:00 dini hari sampailah kami di depan stasiun guntur. Bertemu kawan baru lagi, seorang pendaki dari Bandung, doi naik motor, namanya Imam. Celananya robek-robek, kirain abis jatoh karena ngantuk tapi gak ada luka sedikitpun, kemungkinan kedua adalah bawa motornya capai level kecepatan cahaya.

Sebelum berangkat kami sempatkan beli dulu sarapan di warung, nasi kuning sob. Lalu melenggang kearah pick up kemudian cabut – kejadian selanjutnya karam di tengah jalan akibat malfungsi sistem rem yang ambyar tadi.

Karena lama nunggu pick up jemputan baru, beberapa dari kami sarapan duluan. Ada yang cecarian ATM, dan berbagai atraksi lain sebelum kehabisan gaya dan ide karena udara lumayan dingin, gerak terus.

Usai sudah penantian, perjalanan sampai ke pos pemancar Cikurai total makan waktu 2.5 jam plus mogok tadi. Hampir sampai tujuan tapi kayaknya itu mesin pickup udah bekarat, di tanjakan uhuy sekitar seratus meter sebelom pos, dia mogok. Kaki-kaki kami yang udah gemes melangkah segera turun ke wilayah bumi yang berkontur jengkang – miring ke atas. Segera setelah mendapati hilangnya beban berat yang gelatung di bak, itu pickup ngacir asepnya putih ngebul.

(to be continue ya bro teraweh dulu)

Advertisements

Petikan damai Ramadhan.

Sebuah artikel yang baru saja muncul di halaman google, karena penasaran dan ternyata menarik – setelah dibaca menenangkan hati, membuka sisi pandang baru positif yang banyak unsur manfaat di dalamnya. Berikut lengkapnya:

image

Salah satu sisi negatif kehidupan modern adalah munculnya masyarakat yang egois. Hampir semua orang disibukkan oleh urusannya sendiri, dan tak peduli dengan urusan orang lain. Bila ada urusan pribadinya yang terganggu sedikit saja, muncul alasan untuk marah, membalas, atau mendendam.

Padahal, dengan cara seperti itu, ia malah akan menanggung dua beban sekaligus. Pertama, beban atas gangguan orang lain. Kedua, beban marah yang tersimpan di dalam dadanya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beban yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A’raf [7]: 199)

Meski Dizalimi

Seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabari, ketika ayat di atas diturunkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) meminta penjelasan kepada Jibril tentang maksud dan kandungannya.

Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala meme-rintah¬kan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturrahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”

Dalam kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memuji seorang bernama Abu Dhamdham di depan para Sahabat. “Apakah kalian mampu berbuat seperti yang dilakukan Abu Dhamdham?” kata Rasulullah SAW.

Para Sahabat kemudian bertanya, “Apakah yang dilakukan Abu Dhamdham wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang ketika bangun pagi selalu mengucapkan doa, ‘Ya Allah, saya berikan jiwa dan nama baik saya. Jangan dicela orang yang mencela saya dan janganlah dizalimi orang yang menzalimi saya , serta jangan dipukul orang yang memukul saya,’.”

Alangkah mulianya ajaran Islam ini bila diterapkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.
Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bias memaafkannya.

Sebelum Diminta

Al-Qur`an secara spesifik pernah menegur Abu BakarAsh- Shiddiq karena ia telah bersumpah akan memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan keuangan yang biasa diberikannya kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah.

Peristiwa ini bukan tanpa alasan. Misthah telah melukai hati Abu Bakar karena ikut serta menyebarluaskan berita bohong (haditsul ifki) tentang ‘Aisyah, putri kesayangannya.

Dalam berita palsu itu disebutkan bahwa ‘Aisyah telah berbuat serong dengan lelaki lain. Siapa yang hatinya tidak marah jika putrinya difitnah seperti itu?

Akan tetapi Allah Ta’ala justru menurunkan ayat secara khusus ditujukan kepada Abu Bakar. Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana disebutkan dalam akhir Surat An-Nuur [24] ayat 22, “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Setelah ayat itu disampaikan oleh Rasulullah SAW, secara spontan Abu Bakar menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dengan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”
Abu Bakar memberi maaf kepada sepupunya yang menyebarkan fitnah keji itu sebelum Misthah datang meminta maaf. Baginya, ampunan Allah Ta’ala jauh lebih penting dari pada sekadar permintaan maaf orang lain.
Ia tidak menunggu sepupunya merengek-rengek atau menunduk-nunduk meminta maaf. Meminta maaf atau tidak, ia telah memaafkannya.

Pangkal Pengampunan

Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah Ta’ala berada di atas
segala-galanya. Karena itu kita hendaklah meminta ampunan-Nya siang dan malam. Beristighfar dan bertaubatlah kepada-Nya.

Salah satu cara mudah meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.”

Sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala), seberapa pun besarnya kesalahan orang lain, kita harus bisa terbuka untuk memaafkannya.

Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia.

Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan.

Dalam hal ini kita harus berhusnuzhan (baik sangka) kepadanya bahwa dia tidak memahami kesalahannya, atau karena ilmunya yang terbatas, atau mungkin saja persepsinya yang berbeda.

Cara kedua, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Allah Ta’ala mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain?

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih suka memaafkan selain Allah. Oleh karena itu, Dia mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Riwayat Bukhari).

Begitu besarnya pengampunan Allah Ta’ala sehingga Dia memaafkan orang yang meminta ampunan maupun yang tidak minta ampun. Dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhari disebutkan bahwa ada seorang laki-laki di masa lalu yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jasadnya jika ia telah mati, lalu menaburkan abunya di hembusan angin. Tujuannya tak lain agar Allah Ta’ala kelak, menurut anggapannya, tidak dapat mengumpulkan kembali abu tersebut dan tidak dapat menyiksanya.

Lalu Allah Ta’ala mengumpulkan abunya, dan menghidupkannya kembali, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu berbuat demikian?”

Ia menjawab, “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Allah Ta’ala kemudian mengampuninya.
Para Ulama mengomentari Hadits di atas bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seseorang karena ketidaktahuannya dalam masalah aqidah. Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita tidak ingin memaafkan kesalahan saudara kita hanya karena ketidaktahuannya atas masalah yang lebih sepele dibanding kejadian di atas?

Al-Qur`an bahkan menyebut dengan tiga tindakan berkaitan dengan pemaafan dalam keluarga, yaitu ta’fu (memaafkan), tasfahu (tidak mengeluarkan kata-kata yang identik dengan mencela), dan taghfiru (memohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala untuk mereka).
Sesungguhnya ada seribu satu alasan untuk memaafkan, sebagaimana ada seribu satu alasan untuk tidak memaafkan. Hanya saja, sebagai orang yang telah digembleng oleh Ramadhan, kita tentu lebih memilih untuk memaafkan.

Sebab, itulah ciri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran [3] ayat 133-134 bahwa, “ … (orang yang bertakwa) yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang- orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. “
Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.
Wallahu a’lam bish-Shawab.

(Suara Hidayatullah)

Catatan perjalanan Gn. Sindoro – Sumbing (double S).

Kali ini gw mau menceritakan kisah pendakian Gn. Sindoro – Sumbing (Double S). Semua diawali dengan sebuah ide yang sangat briliant dari seorang petapa sebut saja Hendra, dia tetiba muncul begitu saja kemudian mencetuskan sebuah kalimat yang tergambar dalam sebaris ketikan dalam grup linggarjatisepuluhpersen (sebuah grup WA): “bro double S yuk”. Betul saja hal ini memicu keributan sekaligus dukungan fanatik, “AYOO..!”. Dari sini mulai berdatangan para petapa dari seluruh penjuru Jabodetabek. Technical meeting via grup WA terjadi. Tukar pikiran, saut-sautan out of topic, hingga celetuk kegelisahan banyak terjadi di sana. Hingga terbit sebuah timeline perencanaan matang pendakian Double S:

Perencanaan Double S

Perencanaan Double S

Hari H yaitu tanggal 17 April 2014 tiba. Kami berencana bertemu di meeting point Terminal Mendolo (masing-masing berangkat dari berbagai penjuru sekitaran Jakarta sesuai wilayah tempat kerja dan universitas). Tidak disangka-sangka semua keberangkatan mengalami DELAY bro. Jadwal keberangkatan yang tadinya pukul 17.00 baru berangkat sekitar 22.00. Kondisi lalu lintas ibukota saat itu sangat padat. Ditambah perjalanan yang sangat macet hingga Tasikmalaya membuat jadwal jadi berantakan (udah biasa begini sih hahaha tapi kali ini kelewat parah dari rencana jadwal).

Stasiun Mendolo

Stasiun Mendolo

18 April 2014 Pukul 13.30 WIB, kami tiba di Stasiun Mendolo: Gw, Cyntia, Rangga, Budi, Yunus, dan Audit. Kawan kami Vega dan Opi masih di jalan (masih di sekitaran Bandung, karena macet) dan mereka memutuskan untuk menyusul kemudian saat kami di Sumbing. Pendaki yang batal ikut yaitu Oki dikarenakan nyasar entah kemana saat menuju terminal Rawamangun, sedangkan sang pencetus ide si Hendra ia terjebak suatu kondisi kerja yang mengharuskan ia masuk kerja hingga hari minggu.

Seusai melaksanakan sholat Dzuhur rangkap Asar, kami berangkat menggunakan bus kecil ke Desa Kledung. Memakan waktu 20 – 30 menit dari Trm. Mendolo. Daftar di pos Sindoro kemudian sebelum berangkat kami makan siang dulu di warung samping pos pendaftaran Sindoro. Setelah itu kami ngojek sampai pos 1 😀 (lumayan buat hemat waktu dan energi soalnya rencana double S).

Seturunnya dari ojek kami menyempatkan diri berfoto:

Masih seger abis ngojek :p

Masih seger abis ngojek :p

Langkah pertama pendakian dimulai, Audit yang newbie lumayan ngos-ngosan di awal trek tapi semangatnya luar biasa. Gw, Tugik, Cyntia, Yunus dan Budi masih bisa nyengir-nyengir lucu (selagi sempat).

Kalo ngikutin timeline (yang tentu aja udah dirubah karena ngaret): Jalan terus hingga pos III seenggaknya begitu rencana kami buat gelar makan malam. Tapi belum sampai pos II hari sudah gelap. Singkat cerita kami akhirnya sampai ke pos III dan gak ada lagi lapak kosong bahkan buat gelar lapak makan. Lanjut terus kami berencana gelar tenda langsung begitu ketemu lahan kosong. Ketemulah di pinggir jurang yang dalem dan cuma muat satu tenda. Bahkan buat masak pun sulit karena emang sempit banget lapaknya. Makan sambil pegangan pohon biar gak jatoh ke jurang sambil jongkok sampe kaki keram. Santapan malam itu adalah Bakso plus nasi dan orek tempe. Sedap anget emang itu kuah bakso saat kelaparan :D. Udah gitu pas mau ngebo (baca: tidur) tenda Tugik yang berkapasitas 4 orang itu ajaibnya kita semua masuk, tenda disesaki oleh 6 pendaki yang sudah nafsu pelukan Sleeping Bag, kami tidur dalam kecemasan jikalau gelinding kita pasti mati rame-rame masuk jurang (gak ada foto lapak tenda tersebut, kayaknya udah gak kepikiran lagi buat foto spot tenda yang berbahaya begini waktu itu).

Bulan Purnama

Bulan Purnama

19 April 2014, Jam 3 pagi kita semua bangun masak mie dan lanjut muncak. Dingin parah tapi ingatan yang menghangatkan yaitu tentang langit malam yang cerah dengan bulan purnama yang masih menempel kuat juga tentang bayangan gunung Sumbing yang gagah sangat indah di kala malam. Lanjut jalan tanpa carrier (YES..!), begitu sampai pas sebelom Pos 4 di hutan Lamtoro, Sunrise yang sangat indah dengan tanpa malu-malu muncul dengan gemulai. Puas menikmati keindahan dengan tanpa berkata-kata kami lanjut foto dikit dulu sebelum mulai menuju puncak.

Menunggu Sunrise

Menunggu Sunrise (sambil ngeliatin Gn Sumbing)

Sunrise gan :D

Sunrise gan 😀

Konturnya menipu, kirain udah deket itu puncak rupanya masih jauh. Nanya beberapa pendaki yang usai muncak jawabannya adalah satu jam lagi – satu jam lagi, terdengar seperti penyemangat yang jika ditelusuri itu adalah kalimat penyemangat saja tanpa ada kepastian satu jam lagi sampai. Ada juga sih yang jujur mengatakan 4 jam lagi (nyesel nanya bro jadinya :D). Namanya puncak selalu Jauh di mata dekat di kaki toh akhirnya sampe jam 10 siang di Puncak Sindoro:

Full Team Sindoro Summit

Full Team Sindoro Summit

Di Atas Awan

Di Atas Awan

Puas menikmati Sindoro Crater kami turun karena lapar dan kehausan, untuk mencapai tenda diperlukan waktu sekitar 1.5 jam. Begitu sampai tenda badai mengguyur dan bertiup kencang. Beruntung kami dikelilingi pohon Lamtoro. Kami menunggu badai reda sambil nyemil coklat dan sisa-sisa mie. Elang dan Opi saat ini sedang mendaki Sumbing. Maafkan kami Elang kami terjebak badai. karena sangat lapar kami memaksakan diri memasak ditengah badai sambil mengejar waktu untuk menyusul Elang, karenanya sambil memasak diiringi dengan pembongkaran tenda.  Sore hari pukul 4 kami berangkat turun. Kondisi cuaca saat itu masih hujan. Sekitar jam 7 malam kami sampai di pos I di pangkalan ojek. Audit saat itu belum muncul juga, karena khawatir kami kembali mendaki dan berencana menuju pos II kebetulan diwakili gw dan Budi.

Setelah penjemputan Audit kami ngojek lagi sampai Pos Pendaftaran Sindoro. Kemudian bergegas ke Pos Sumbing sambil membeli keperluan logistik. Di Pos Sumbing kami bertanya tentang Elang dan Opi, benar mereka telah mendaki sejak siang tadi. Kami beristirahat dahulu sejenak sebelum menyusul mereka. 20 April 2014, setelah 2 jam tidur, rupanya banyak teman-teman yang sudah lelah, akhirnya misi pendakian kali ini berubah menjadi misi kemanusiaan, menjemput dan mengantarkan bahan logistik ke Elang dan Opi di Pos yang telah kami sepakati yaitu di Pos II Sumbing, Pos Genus. Berbekal satu carrier 45L berisi bahan makanan kami bergegas meluncur dengan Ojek ke arah Trek Pendakian Jalur Lama. Kondisi masih gelap gulita dan bahkan belum adzan subuh. Kami berdua berjalan dengan bekal sarapan Roti Unyil.

Ketemu ni si Opi (tengah), di Foto oleh Elang. Perjalanan dari Pos Genus menuju Pos Pendaftaran Sumbing

Ketemu ni si Opi (tengah), di Foto oleh Elang. Perjalanan dari Pos Genus menuju Pos Pendaftaran Sumbing

udah di deket pos sumbing nyariin ELang gak ketemu akhirnya foto tanpa elang dan opi :s

Seusai misi penjemputann, udah di deket pos sumbing nyariin Elang gak ketemu akhirnya foto tanpa Elang dan Opi :s

Alhamdulillah Elang dan Opi baik-baik saja, mereka rupanya juga tidak berniat muncak, jadi kita turun bersama-sama. Merayakan bersatunya kembali kita dengan selamat, sesampainya di Tmn. Mendolo bersama kita santap Mie Ongklok Wonosobo dan kebetulan pada saat itu Elang berulang tahun. Happy Birthday Elang!

Makan Ongklok

Makan Ongklok

Special thanks to: Tugik (@hyukaze7), semua foto di sini adalah hasil karya doi 😀

 

Esok (tanggal 16 Mei 2014) beberapa dari kami ingin mendaki Gn. Cikurai, insyaAllah)

Catatan perjalanan Gn. Ciremai via Linggarjati – Apuy.

Berikut adalah sebuah catatan tentang perjalanan penuh darah dan keringat untuk menapaki puncak Ciremai. Dimulai dari ajakan pendaki berandalan yang sudah tidak jomblo lagi, sebut saja Dodi. Hari H (28/3/14) yang ditunggu tiba, tersebutlah segerombolan 6 pria gamang dan resah yang sudah rindu belaian trek terjal nan sadis. Alfamart Pulogadung adalah saksi banyak bicara yang menyaksikan pertemuan kami. Di sana terdapat: Hendra, lelaki yang sudah me-Rinjani ini mengaku sebagai seorang pemikir hebat untuk urusan wanita dan cinta. Rangga, fotografer yang penuh semangat bertangan dingin. Aji, penakluk banjir Jakarta bagian setiabudi yang menguasai ilmu sihir. Vega, pawang elang bersenjatakan sisir dan cairan lengket pengkilap rambut. Dodi, pria Sinabung yang punya banyak mantan dan agak sensitif tentang warna kulitnya. Dan gw sendiri si pria vaksin sebutan mereka hahaha.
Tepat pukul 20.30 kami menaiki bus bernama Luragung jurusan Pulogadung – Kuningan (tiketnya tulisannya 60k tp di tawar jadi 50k). Entah kenapa supir bus ini terus saja mengizinkan penumpang masuk meskipun teriakan manusia di dalam karena tercekik kesempitan sudah menggema keras. Kami duduk di belakang kaki keram karena berjam-jam duduk dengan keadaan tertekuk tanpa bergerak. Bus kampret ini melaju sangat kencang di jalur pantura, entah berapa kucing yang mati terlindas olehnya. Mencoba melarikan diri ke alam mimpi tapi apa boleh buat yang kami dapati hanyalah tidur ayam tanpa kenikmatan diperjalanan, akhirnya jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari (29/3/14), kami tiba di pertigaan Linggarjati.
Bahagia bukan main saat turun dari bus penuh derita. Melipir sebentar ke indomaret mencari seteguk kenikmatan buat tenggorokan yang kering. Foto sebentar di tugu Linggarjati trus ngangkot, tarifnya? per kepala kena goceng brother. Sekitar 15 menit kemudian sampailah kami di pos pendaftaran. Mang Anto yang saat itu sedang tidur rela bangun untuk mengurusi izin pendakian kami. Setelah bercengkrama dan pemeriksaan peralatan pendakian kami pamit untuk segera memulai perjalanan (biaya izin pendakian: ceban per orang).

Linggarjati

Linggarjati

Pos Pendaftaran

Pos Pendaftaran

03.30 posisi kami masih diketinggian 600 Mdpl. Tapak demi tapak melenggang menuju Pos Cibunar (sumber air satu-satunya), kondisi masih gelap dan trek yang dilalui berkontur aspal halus lebih halus dari aspal ibukota yang katanya banyak di korup makanya aspalnya jelek ky muka temen gw si Dodi #pissbrother :D. Tepat adzan subuh kita melebarkan sajadah dan memulai bersujud kepada Allah. Seusai sholat kami bergegas menyalakan kompor dan mulai memasak. Sekitar jam 07.00 udah kelar urusan sama perut kami segerakan pergi takutnya keburu mager. Sebenernya di Musholla itu ada kolam yg ada ikanya lumayan gede buat bekel makan siang tapi enggak tega, akhirnya dihiraukan begitu saja. Belom sampe 100 langkah dari Musholla si Aji digoda sama pendaki cabe-cabean bertato yang penasaran sama bunyi klonengan kebo yang nempel di carriernya, katanya bunyinya lucu. Perjalanan Cibunar menuju Condang Amis dengan jalan santai bisa ditempuh dalam waktu 2.5 jam artinya jam 9.30 kita sampai di Condang Amis. Setelah mengatur napas lanjut jalan menuju Kuburan Kuda, di tengah perjalanan hujan turun dengan lebatnya. Dingin dan kelaparan, jam udah nunjukin lewat jam 12.00 tapi belum keliatan juga itu Kuburan Kuda, dengan lambung yang isinya cuma angin doang wajar klo letupan kentut ramai terdengar. Sekitar jam 13.00 alhamdulillah sampai juga di Kuburan, gelar Flysheet dengan cepat lalu makan siang pake menu ajaib Mie Goreng dicampur Bubur Instan, sikaat.

Kuburan Kuda

Kuburan Kuda

Hujan baru berenti sekitar jam 14.30, bersiap berangkat menuju Pangalap. Di sini trek mulai terjal, kontur tanah becek campur akar-akar pohon yang mencuat keluar. Tugik (Rangga) sempat mengalami kram kaki di trek ini syukurlah terpulihkan dengan cepat dengan bantuan salep otot. 15.00 udah sampe di Pangalap, istirahat sebentar terus lanjut ke Tanjakan Seruni, cuma 40 menit dari Pangalap udah ketemu itu papan nama Tanjakan Seruni. Konon katanya tanjakan ini bener-bener seru, karena itu kami menyempatkan diri buat ngambil napas yang dalem sebelum mulai. Beberapa jam kemudian hingga adzan magrib berkumandang rupanya kami belum selesai menapaki keseluruhan Tanjakan Seru ini, nafas sudah terlalu pendek untuk dihirup, karenanya kita istirahat dl dijalan sebentar sembari ngupi. Setelah itu perjalanan dalam kegelapan dimulai, sekitar jam 19.00 sampailah kita di papan nama bertuliskan Bapa Tere. Sumber cahaya yang hanya berasal dari headlamp kita masing-masing menuntun agar gak kesandung pas lagi jalan, keheningan hutan menemani menikmati kelelahan kami dalam pendakian. Target kami adalah mencapai Batu Lingga, tapi harapan iu tak kunjung sampai. Letih sudah sampai batasnya. Pukul 23.00 sudah hampir terbunuh oleh lelah. Tenda didirikan dengan buru-buru ditengah jalan, biar saja kami sudah tidak peduli ingin segera makan dan tidur.

Kelelahan di Bapa Tere

Kelelahan di Bapa Tere

Pagi dini hari (30/3/14), dengan nyawa yang baru terkumpul sedikit kami bangun 03.30. Re-packing dan sarapan selesai jam 05.00. Kemudian tanpa membuang waktu segera melanjutkan perjalanan. 05.30 baru kita temukan papan nama Batu Lingga. Tak lama benar saja kita temukan deretan batu-batu berejeran membentuk tanjakan. Pukul 06.00 – 07.30 beristirahat di tengah perjalanan. Pendakian kemudian berlanjut terus sampai Sangga Buana 1 dan 2 kira-kira pada pukul 09.30. Tak membuang waktu kami terus mendaki hingga sampai ke pos Pengasinan pada pukul 10.30. Setelah puas beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Tanjakan Asoy begitu mereka menyebutnya, tanjakan terakhir sebelum puncak, sikaaaat. Akhirnya pada pukul 11.15 kami berdiri denngan dengkul gemetar di puncak tertinggi di Jawa Barat 3078 Mdpl #harubiru.

Ciremai Summit

Ciremai Summit

Puncak Ciremai \m/

Puncak Ciremai \m/

IMG-20140407-WA0006

Laut, di jepret oleh photografer handal: Bang Tugik

IMG-20140407-WA0000

Bareng dodot di atas awan

IMG-20140402-WA0085

Full Team di pinggiran kawah

IMG-20140401-WA0005

Ceritanya lagi menghirup udara segar di pinggiran kawah Ciremai

Setelah puas-puasin berfoto di setiap sudut crater kami bergegas menuju jalur turun, trek berikutnya adalah jalur Apuy. Perjalanan turun kami bergegas ke Goa Walet (sumber air dari tetesan goa) untuk nenda, karena persediaan air kami juga sudah tipis.

Perjalanan menuju Apuy

Perjalanan menuju Apuy

 

Singkat cerita keesokan harinya kami berangkat turun setelah sarapan dan sholat subuh, sampai pos pendaftaran Apuy sekitar pukul 12.00. Alhamdulilah.

Pulang menggunakan mobil pick up carteran 50k sampai terminal Maja. Sambung elf RT 25k sampe leuwing panjang, dan naik bus ke jakarta 40k. Sampai Jakarta terminal Kp Rambutan hari selasa jam 03.00 dan gw langsung menuju kantor. Perjalanan yang seru dan sarat pembelajaran (Keagungan Tuhan). See you soon Linggarjati sepuluhpersen. (rencana kami mau ndaki bareng ke Double S sindoro sumbing hari kamis ini 17 april 2014)

image

Pemandangan dari goa walet

image

Di atas goa walet full team

Tentang keyakinan dari sudut pandang seorang Salim.

Desert

Ini adalah kisah yang aku dapatkan dari seorang sahabat.

iman adalah mata yang terbuka,
mendahului datangnya cahaya
tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
lalu rasakan hangatnya keajaiban

Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.

Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.

Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”

Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.

Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.

Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.

Itukah keyakinan yang sempurna? Terdengar seperti kenaifan dari sudut pandang manapun.

Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.

Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.

Dan dia memejamkan mata
Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.

Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.

Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.

Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.

Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.

Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya juga kita akan pulang.

Dari Alfiyatun

Oleh: Salim A. Fillah